Selasa, Juni 09, 2009

Mencari Cara Atasi Ketidaksuburan
















Klik untuk perbesar gambar di atas...


BAGI banyak pasangan, buah hati yang tidak kunjung datang bisa mengundang beragam persoalan. Ini memang masalah universal yang bisa berlangsung di mana saja: di Indonesia, Eropa, sampai Afrika. Kasus yang terjadi bisa berbentuk saling menyalahkan antar pasangan, tekanan keluarga, perceraian, sampai dikucilkan dari kegiatan masyarakat.

DI beberapa etnik di Indonesia, bahkan sudah punya anak perempuan pun tetap saja masih kurang karena belum "menghasilkan" anak laki-laki yang dianggap bisa meneruskan garis keturunan. Akan tetapi, kalau di Indonesia tidak punya anak gangguannya paling ditanya-tanya terus-- plus sejuta nasihat dan saran berobat -- maka pasangan-pasangan di suatu kawasan di Afrika bisa lebih menderita lagi: mereka dikucilkan dari berbagai kegiatan sosial karena dianggap membawa sial.

Karena itu, upaya untuk mengatasi ketidaksuburan juga tak henti-hentinya dilakukan. Mulai dari melakukan hal-hal yang bersifat mitos: mengangkat anak umuk "memancing" datangnya si anak kandung misalnya, pendekatan spiritual, pengobatan tradisional, sampai memanfaatkan kecanggihan teknologi kedokteran. Hasil studi berbagai ilmuwan kesehatan menunjukkan, satu dari tiap enam pasangan ternyata mengalami kemandulan.

Dunia kesehatan sendiri memang terus mencoba mengatasi ketidaksuburan dan terus mencari tahu berbagai penyebab yang membuat pasangan menjadi sulit mempunyai keturunan. Hasil pertemuan para ahli di Swiss beberapa waktu lalu misalnya, menyimpulkan bahwa 40 persen ketidakhadiran anak disebabkan oleh gangguan kesuburan pada pria, 40 persen lagi oleh gangguan kesuburan para perempuan, dan 20 persen sisanya oleh hal-hal yang belum diketahui sebabnya.

GANGGUAN kesuburan pada pria umumnya disebabkan oleh rendahnya kualitas dan kuantitas sperma, yang dipicu oleh berbagai faktor: bisa kelainan sejak lahir, virus, jamur, bakteri, sampai polusi. Pada perempuan faktor-faktor di atas biasanya tidak mengganggu produksi sel telur tetapi menjadi penghambat terjadinya pembuahan.

Salah satu tonggak penatalaksanaan infertilitas berawal tahun 1960an, saat dimulainya penggunaan stimulan ovulasi. Dengan berkembangnya teknik laparoskopi, sel-sel telur yang dipercepat pematangannya ini dikeluarkan untuk kemudian dibuahi dan dikembalikan ke dalam rahim.

Satu dasawarsa kemudian, radiomunoassay diperkenalkan untuk pemeriksaan hormon reproduksi. Paris tahun 1970an itu, kemajuan dalam menangani radang panggul akibat organisme anaerob sangat membantu upaya pasangan untuk mendapatkan anak, sementara bedah rekonstruksi dan histeroskopi juga mulai dimanfaatkan untuk menangani infertilitas.

Teknik inseminasi intra uterin, fertilisasi in vitro dan transfer embrio, teknik simpan beku, dan stimulasi dengan hormon analog yang ditemukan tahun 1980an,melengkapi upaya-upaya sebelumnya untuk menolong pasangan-pasangan yang infertil.

Pada tahun 1990an berkembang teknik mikro yang dapat digunakan untuk mengatasi gangguan sperma berat seperti teknik partial zone dissection (PZD), intro cytoplasmic sperm injection (ICSI), dan subzona sperm insertion (Susi). Pada perkembangan berikutnya, para dokter mulai memanfaatkan teknik memperoleh sperma dalam keadaan azospermia. Teknik ini yang disebut microsurgical epidymal sperm aspiration (MESA), percutaneous spermaspiration (Pesa), dan testicular sperm extraction (Tese).

Perkembangan terakhir tentu saja adalah teknik kloning yang menghebohkan itu. Sejak keberhasilan melahirkan Dolly dan Tetra, domba dan kera hasil kloning, para ilmuwan memang banyak yang tergoda untuk menerapkan teknik kloning pada manusia. Tak punya sel sperma? Tak punya sel telur? Tak ada masalah. Tinggal mengambil inti sel dari salah satu bagian tubuh ayah atau ibunya, kemudian dititipkan di sel-sel tertentu sampai terjadi pembelahan, lalu ditanam dl rahim sampai embrio berkembang sempurna.

Meski masih menjadi debat pro dan kontra, baru-baru ini sekelompok ilmuwan telah mengumumkan untuk melakukan riset kloning manusia. Sementara salah satu negara yang sudah menyetujui riset di bidang itu adalah Inggris, lewat pernyataan resmi parlemen dan pemerintahnya. Puncaknya adalah persetujuan House of Lords (Majelis Tinggi) Inggris lewat voting awal tahun ini, yang menyetujui adanya peraturan-peraturan pemerintah untuk mengizinkan riset kloring embrio manusia yang terbatas.

PERKEMBANGAN teknologi untuk atasi kemandulan terbaru dilaporkan di Inggris pekan ini. Teknik itu ditujukan pada perempuan muda yang menjalani pengobatan kanker untuk mencegah terjadinya kemandulan.

Soalnya data empirik menunjukkan, banyak perempuan muda kehilangan kesuburannya setelah mereka menjalani pengobatan kanker seperti kemoterapi dosis tinggi dan transplantasi sumsum tulang. Yang lebih berat lagi, ternyata banyak perempuan muda yang bahkan menjadi lebih shock ketika tahu dirinya tidak lagi subur dibanding saat mengetahui dirinya kena kanker.

Para dokter memang kemudian mencoba mengatasinya dengan memindahkan jaringan indung telur sebelum pengobatan dilakukan, menyimpannya, dan kemudian mengembalikannya setelah pengobatan selesai. Namun teknik ini ternyata masih berisiko karena mungkin saja ada sel-sel kanker yang bersembunyi di indung telur. Jadi begitu indung telur ditransplantasikan kembali ke tempat asalnya, sel-sel kanker itu bakal bermunculan lagi.

Sebenarnya ilmuwan bisa mendeteksi tanda-tanda bahwa suatu jaringan itu ada sel kankernya atau tidak dengan menggunakan mikroskop yang sangat kuat, namun cara ini tidak 100 persen efektif. Karena itu, para ilmuwan kini beralih menggunakan tikus yang sudah dimodifikasi gennya sehingga tidak lagi memiliki kekebalan tubuh, untuk menguji adanya sel-sel kanker di indung telur.

"Kami ingin jaringan indung telur itu aman ketika ditransplantasikan kembali ke tubuh pemiliknya," papar Dr S Samuel Kim dari Universitas Washington di Seattle, AS.

Bersama tim dokter dari Universitas Leeds dan Manchester, Inggris, ia mentransplantasikan jaringan indung telur 30 pasien kanker sistem limfatik pada tikus. "Kalau tikus-tikus itu kemudian terkena kanker, berarti indung telur itu membawa sel-sel kanker. Kalau tidak, tentu saja kami bisa lebih tenang mentransplantasikannya kembali ke pasien," tambahnya.

Sebagai kontrol, para peneliti juga menanam sel kanker kelenjar limfa pada 30 ekor tikus lainnya. Ternyata pada ketiga puluh ekor tikus kontrol ini muncul sel-sel kanker, sementara 30 ekor lainnya yang ditanami sel-sel indung telur pasien kanker sehat-sehat saja. "Karena itu cara ini bisa dilakukan sebagai alat penguji sebelum jaringan indung telur dikembalikan pada tubuh manusia," ujar Kim.

Saat ini, di Amerika sekitar 40.000-50.000 perempuan yang masih dalam usia reproduksi aktif didiagnosis terkena kanker. Mereka yang sudah menjadi terapi umumnya masih belum mendapatkan kembali jaringan indung telurnya, menunggu perkembangan teknologi agar jaringan indung telur itu benar-benar aman saat dikembalikan ke tubuh.

SEBENARNYA selain uji coba pada tikus, para ahli di Amerika juga mencoba mengembangkan teknik penanaman kembali di lengan, tepat di bawah siku. Hasilnya ternyata juga menjanjikan. Jaringan ovarium itu ternyata berfungsi normal di lengan: memproduksi telur matang dan menagatur siklus menstruasi. Kombinasi kedua metode di atas tentu saja akan sangat bermanfaat bagi para perempuan yang memerlukannya.

Dengan berbagai perkembangan ini, para pasangan yang belum juga mendapat anak, atau para perempuan yang tetap ingin memiliki kesuburannya walau menjalani berbagai terapi kanker, tak perlu putus asa. Dengan makin mudahnya komunikasi, pengetahuan itu umumnya juga bisa dengan cepat diadaptasi dan dipraktikkan, termasuk oleh para dokter ahli kesuburan di Indonesia.

Jadi, tunggu apa lagi. Mengapa tidak mencari informasi pada dokter Anda, di klinik-klinik kesuburan, atau di berbagai rumah sakit dari sekarang?
(Reuters/AP/nes)

Kompas, Minggu
30/09/2001

Tidak ada komentar:

Posting Komentar