Sabtu, September 05, 2009

Melintas di Atas Suramadu



Akhirnya jadi juga jembatan itu. Suramadu namanya. Nama yang memadukan dua sisi yang terpisah oleh sebuah selat, Kota Surabaya di sisi barat dan pulau Madura di sisi timur. Digagas sejak masa Soeharto, dicanangkan pada era Megawati pada 20 Agustus 2003, dan diresmikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono 10 Juni 2009, Suramadu segera menyita perhatian. Selain manfaatnya segera dirasa sebagai jalur penghubung transportasi antara kedua wilayah, Suramadu juga indah dipandang mata. Terlebih ketika senja tiba, pesonanya segera menyedot wisatawan segala penjuru Nusantara.

Jembatan Suramadu pada dasarnya merupakan gabungan dari tiga jenis jembatan dengan panjang keseluruhan sepanjang 5.438 meter dengan lebar kurang lebih 30 meter. Jembatan yang dikelola oleh PT. Jasa Marga ini menyediakan empat lajur dua arah selebar 3,5 meter dengan dua lajurdarurat selebar 2,75 meter. Juga disediakan lajur khusus bagi pengendara sepeda motor di setiap sisi luar jembatan.

Melintasi jembatan yang terpanjang di Indonesia ini sungguh menyenangkan. Meski panas terik menyergap bersama hembusan angin laut yang kering, tapi birunya air laut di selat Madura dengan sejumlah kapal tengah berlayar di tengahnya sungguh tak membosankan. Sementara di seberang timur terlihat tanah dataran Madura dengan kota Bangkalan di ujung jembatan, sedangkan di belakang terlihat kota Surabaya dengan patung perwira Angkatan laut yang dikenal sebagai Patung Jalesveva Jayamahe tampak seperti mengawasi kita.

Meski tak semegah Golden Gate di San Fransisco, Amerika Serikat, Suramadu cukup membuat kita terkagum-kagum. Ternyata bangsa kita juga mampu membangun jembatan berteknologi tinggi seperti bangsa-bangsa maju lainnya. Fungsinya menggantikan penyeberangan ferry yang selama ini diakui kurang optimal dalam memajukan perekonomian kawasan Madura. Dengan menghabiskan dana sebesar 4,5 triliun rupiah, pinjaman dari negara sahabat, diharapkan Suramadu mampu mewujudkan impian orang-orang Madura untuk berpacu bersama masyarakat Jawa Timur lainnya meraih kemakmuran dan kesejahteraan.

Semoga saja ***

Kabar dari POS
Edisi 13, 2009

Soda Bottle Rocket


Soda Bottle Rocket
Steve Lodefink | Make Vol. 05 - 2006 | Pdf | 13 pgs | 4 mb
Get your sugar rush setting off a soda-bottle rocket powered by air and water!
Download...
Mirror

Jumat, September 04, 2009

Misteri Pembasmian itu

HAMPIR semua pejabat tinggi AS di Washington maupun kedutaan besarnya di Jakarta tidak menyangka bahwa PKI sebagai partai politik yang meraksasa waktu itu akhirnya hancur berantakan setelah pecahnya peristiwa tanggal 30 September 1965. Kegagalan demi kegagalan CIA untuk menyingkirkan Bung Karno memunculkan rasa skeptis yang membuat mereka menarik kesimpulan bahwa Indonesia akhirnya akan jatuh ke tangan komunis.

Baru pada malam hari tanggal 1 Oktober, CIA di Jakarta mengirimkan laporan kepada Presiden Lyndon Johnson, yang pada intinya mengatakan bahwa apa yang terjadi sehari sebelumnya merupakan akibat dari masalah internal di dalam TNI AD. Mereka menyebutkan pula bahwa Letkol Untung --yang disebut sebagai seorang Muslim yang taat-- melakukan perbuatan terkutuknya, karena tidak suka dengan korupsi yang merajalela di kalangan atas TNI AD.

Juga di hari yang sama tanggal 1 Oktober, Menlu AS Robert MacNamara dan Wakil Menlu George Ball menyimpulkan dalam pembicaraan telepon mereka bahwa peristiwa 30 September itu merupakan langkah pertama dari kemenangan PKI. Mereka panik, dan sudah memerintahkan Kedubes di Jakarta untuk menyiapkan evakuasi.

Sedangkan analisis Dephan AS lain lagi, yaitu kudeta Untung merupakan manuver untuk menyelamatkan Bung Karno dari ancaman kudeta TNI AD. Memang pada bulan April 1965, Dubes Howard Jones (yang digantikan Marshall Green) bersama Kabid Politik Edward Masters sudah mewanti-wanti akan terjadinya kudeta itu ke Asisten Menlu Urusan Asia Timur, William Bundy.

Menurut rencana, kudeta militer itu akan dilancarkan saat Bung Karno sedang berada di luar negeri bulan Mei atau Juni. "Informasi tentang kudeta ini saya dapatkan dari salah seorang pemimpin dari kelompok yang terdiri dari tokoh-tokoh penfing sipil dan militer," kata Jones kepada Bundy.

Jones digantikan Green tanggal 24 Mei 1965. Keesokan harinya dari Bangkok, Jones sempat mengirim kawat ke Deplu AS yang isinya mengeluhkan lambatnya perencanaan kudeta itu.

"Tadinya (kudeta) itu akan dicetuskan saat Soekarno di luar negeri. Tetapi, ini tampaknya tidak akan bisa terjadi, karena orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak mampu bergerak cepat," tulis Jones.

Kalau asumsi Jones itu benar, berarti Untung mendahului rencana kudeta TNI AD, yang katanya akan dilancarkan tanggal 5 Oktober bersamaan dengan HUT ABRI.

"Banyak pertanyaan mengenai Untung. Banyak laporan yang mengatakan ia cuma boneka yang dikorbankan. Menurut sebuah sumber, ia seorang Muslim yang taat, yang muak dengan kemewahan dan korupsi yang dilakukan perwira-perwira tinggi," kata laporan CIA tanggal 6 Oktober.

"Jika ia cuma menjadi alat, lalu siapa yang merancang kudeta? Atau ada berapa rencana yang sudah diatur oleh berbagai elemen, yang akhirnya membuat situasi menjadi kusut?" lanjut laporan itu. Tetapi, yang pasti tidak kusut adalah hubungan mesra Washington dengan sejumlah jenderal TNI AD lewat Atase Militer AS di Jakarta, Kolonel William Ethel.

Sayangnya, menurut buku Hubungan Luar Negeri AS, ada beberapa dokumen penting yang tidak bisa diungkap (de-classified) yang bukan mustahil akan mengungkap lebih banyak lagi misteri tanggal 30 September. Ada tiga dokumen (nomor 180, 182, dan 221) yang sama sekali tidak bisa diungkap isinya, dan tiga lagi (nomor 167, 175, dan 181) yang sebagian isinya juga dilarang diungkapkan isinya.

"Larangan ini dibuat dengan alasan kalau dokumen-dokumen itu terungkap isinya, akan menguak tabir mengenai sumber-sumber dan metode-metode intelijen yang secara 'jelas dan demonstratif' akan membahayakan kepentingan-kepentingan keamanan nasional AS," kata pengantar buku itu.

Pada tanggal 13 Oktober 1965, Deplu AS mengirim kawat ke Kedubes di Jakarta. "Sudah saatnya kita menunjukkan isyarat-isyarat kepada militer tentang sikap kita. Kita bisa menarik keuntungan dari permintaan pembantu (Jenderal) AH Nasution, sekaligus memperhatikan tiga hal," kata kawat itu. "Pertama, kita belum mengetahui siapa yang berkuasa di militer. Contohnya, sekalipun tampaknya yang berkuasa adalah Nasution, namun Soeharto kelihatannya semakin keras dalam menghadapi Soekarno," lanjut kawat itu.

MESKIPUN masih belum yakin siapa yang berkuasa di TNI AD, namun Kolonel Ethel segera mengambil tindakan cepat dengan menyediakan peralatan komunikasi jenis Motorola P-31 untuk para jenderal pada tanggal 14 Oktober.

"Militer Indonesia juga sudah menyatakan ingin mendapat lagi peralatan untuk menjalin komunikasi dengan pulau-pulau lain," kata kawat itu lagi.

Pada hari-hari itu, AS masih memperhitungkan Bung Karno sebagat salah satu kekuatan politik terbesar selain TNI AD. Selain itu, AS sudah merasa lega karena mendapat laporan-laporan dari kontak Kolonel Ethel mengenai awal penangkapan tokoh-tokoh komunis di seantero Tanah Air. Pada dasarnya, PKI sebagai kekuatan politik sudah nyaris terkubur.

Di bukan Oktober dan November mulai masuk informasi ke Washington mengenai pembasmian komunis. Di Aceh dan Sumatera Utara, sempat ada istilah "banjir darah". Menurut estimasi Kedubes AS, setiap malamnya ada sekitar 50 sampai 100 anggota PKI yang dieksekusi di Jawa Tengah dan Jawa Timur "oleh orang-orang sipil antikommus yang direstui oleh TNI AD."

Laporan dari Konsulat AS di Surabaya menyebutkan pula ada 3.500 warga PKI yang dibunuh di Kediri dalam periode 4-9 November, dan 300 orang lagi di sebuah wilayah sekitar 30 kilometer dari Kediri. Di Bali ada 80.000 orang yang menjadi korban yang terjadi bukan cuma karena perseteruan antara massa PKI dengan PNI, tetapi juga karena dendam antarperorangan atau antarkeluarga.

"Secara bertahap Kedutaan akhirnya menyadari bahwa di Indonesia sedang terjadi sebuah pembasmian atas komunisme, dan pembunuhan itu juga didasari pada konflik antaretnis dan antaragama yang sudah tertanam dalam waktu yang lama. Banyak juga cerita mengenai pembunuhan itu sebenarnya agak dilebih-lebihkan," kata buku itu.

"Kamf tidak pernah tahu apakah jumlah korban mendekati 100.000 atau mendekati satu juta orang, dan akan lebih bijaksana jika kami mengakui jumlah yang lebih kecil. Sifat suka melebih-Iebihkan fakta, yang sudah menjadi soal biasa di Indonesia, juga kepentingan mereka yang terlibat pembunuhan itu, membuat sulit mereka-reka. Kebenaran sesungguhnya tidak akan pernah diketahui," kata Kedubes.

Seorang diplomat AS yang bertugas di Jakarta waktu itu, Richard Howland pada tahun 1970 pernah mencoba menggugat tiga persoalan yang menurut dia salah dipahami. Pertama, seolah-olah TNI AD menohok PKI karena dengan sebuah alasan aneh, yakni karena keterlibatan AS di dalam Perang Vietnam. Kedua, seolah-olah Cina komunis menjadi dalang terjadinya peristiwa 30 September 1965. Ketiga, seolah-olah jumlah korban PKI yang dibunuh mencapai 1,5 juta orang.

Howland mengakui, ia sendiri sebenarnya mengalami kesulitan yang luar biasa ketika menyidik berapa sesungguhnya korban PKI? Tetapi, ia juga yakin adanya sikap yang terlalu melebih-lebihkan fakta yang sebenarnya dari pihak-pihak di Indonesia sendiri. Salah satu sebabnya adalah karena "rasa kemenangan" dari kelompok-kelompok antikomunis dan antiwarga Cina.

Howland mengungkapkan pula, ia pernah mencari tahu dari seorang letnan kolonel TNI AD mengenai jumlah korban PKI. "Total korban adalah 50.000 di Jawa, 6.000 di Bali, 3.000 di Sumatera Utara. Saya tidak setuju dengan metode dia menghitung jumlah ini, namun jika dikombinasi dengan data yang saya miliki, jumlah yang mendekati kebenaran mungkin 150.000 korban," kata Howland.

Berapa jumlah korban yang sesungguhnya mungkin akan tetap menjadi misteri sampai akhir masa. Tetapi, dengan menjunjung rasa kemanusiaan semata-mata, pembasmian itu seharusnya diakui oleh pihak-pihak yang bertanggungjawab, yang sepatutnya meminta maaf kepada saudara-saudara sebangsanya sendiri.

Dan, janganlah pernah terulang lagi pembasmian semacam itu. (bas)

Kompas
Minggu, 05/08/01

Proses Terjadinya Tap MPRS No XXXIII/MPRS/1967

MENYAMBUT ajakan Mas Sulastomo (Kompas, 7/7/2001), kiranya saya dapat sedikit urun rembug untuk memberi penjelasan atas apa yang saya alami waktu itu tentang proses terjadinya Ketetapan (Tap) MPRS No XXXIII/ MPRS/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan Negara dari Presiden Soekarno, secara yuridis konstitusional. Uraian tentang perkembangan politik pada waktu itu dalam masyarakat telah secara memadai ditulis saudara Sulastomo di dalam karangannya itu. Dan bila sekiranya masih perlu mendapatkan gambaran yang lebih jelas, buku Hari-Hari Yang Panjang karangan penulis yang sama akan dapat membantunya.

Tulisan ini, seperti saya nyatakan di atas, akan lebih menyoroti proses yuridis konstitusional terjadinya Tap MPRS No XXXIII/MPRS/1967 itu. Terlebih dulu perlu ditandaskan, Tap itu tergolong dalam ketetapan yang berlaku einmalig, "sekali selesai". Jadi bila ada tuntutan untuk mencabut Tap itu menjadi tidak ada gunanya. Bisa terjadi adalah akibat sosial dari Tap itu yang dianggap kurang tepat, dapat dikoreksi dengan Tap yang berisi rehabilisasi dan sebagainya.

Sebenarnya rehabilitasi terhadap seorang tokoh sejarah yang besar, tidak diperlukan hanya dalam aspek yuridis formal saja, dengan ketetapan, pengangkatan, dan sebagainya, tetapi juga dapat dengan cara pengakuan oleh masyarakat/rakyat akan kebenaran dan kepemimpinan tokoh itu secara riil. Ada kalanya orang .yang secara formal digelari "pahlawan'', tetapi oleh masyarakat/rakyat justru dianggap sebagai pengkhianat atau orang yang tidak pantas mendapat gelar formal itu.

TAP MPRS ini ditetapkan di dalam Sidang Istimewa (SI) MPRS 1967. SI itu diselenggarakan karena ada Resolusi DPR-GR mengenai Memorandum DPR-GR yang diprakarsai Nuddin Lubis dan kawan-kawan. Dalam memorandum itu, DPR-GR berpendapat, Presiden Soekarno dinyatakan telah melanggar haluan negara, yang meliputi semua kehidupan kenegaraan. Presiden Soekarno dianggap gagal di bidang ideologi Pancasila yang diselewengkan menjadi Nasakom, di bidang politik --baik luar maupun dalam negeri-- terjadi penyimpangan-penyimpangan, pembangunan di bidang ekonomi gagal dan situasinya morat-marit, demikian pula di bidang kehidupan sosial budaya dan sosial kemasyarakatan lainnya.

Maka dari itu, MPRS diminta untuk mengambil tindakan terhadap mandataris MPRS/ Presiden Soekarno (yang juga terkenal dengan sebutan Bung Karno). Maka dalam SI MPRS itu, setelah diadakan pembicaraan cukup panjang-lebar dapat disetujui untuk ditetapkannya Tap MPRS No XXXIII/ MPRS/1967 itu.

Perdebatan yang cukup seru adalah saat membicarakan Pasal 3, yang menyatakan: "Melarang Presiden Soekarno melakukan kegiatan politik sampai dengan pemilihan umum ..." Oleh Buyung Nasution pasal ini ditentang, sebab hal ini dianggap melanggar hak asasi manusia. Ada sementara pimpinan fraksi yang meminta agar Buyung Nasution jangan terlalu mengada-ada. Buyung Nasution tetap tidak bisa menerimanya, tetapi Tap ini berjalan seperti direncanakan dan disahkan. Ketika Tap ini disahkan pada Sidang Pleno MPRS, Buyung Nasution interupsi tidak setuju, menyerahkan secarik kertas dan meninggalkan sidang itu. Kejadian ini saya catat dan saya kenang.

Juga ada masalah lain yang menjadi pembicaraan agak bertele-tele, adalah ketidaksediaan Jenderal Soeharto (Pak Harto) untuk diangkat menjadi acting Presiden, Pejabat Presiden, yang nantinya menjadi Pasal 4 Tap itu. Pak Harto hanya bersedia menjadi Pemangku Jabatan (PJ atau PD dalam ejaan lama) Presiden (waarnemer).

Barangkali karena kesembarangan mencetak, maka dalam penerbitan-penerbitan yang dicetak untuk Tap MPRS No XXXIII/MPRS/1967 ini yang tertulis adalah "Pd" (ejaan lama) sebagai singkatan dari Penjabat Presiden (acting). Sehingga waktu itu, bagi kita, "PD" ini diartikan sebagai Penjabat Presiden (acting), sedangkan bagi Pak Harto berarti sebagai Pemangku Jabatan (Pemangku Djabatan, ejaan lama). Salinan lengkap Pasal 4 Tap itu sebagai berikut, "Menetapkan berlakunya Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Sementara) No XV/MPRS/1966, dan mengangkat Jenderal Soeharto, Pengemban Ketetapan MPRS No IX/MPRS/1966 sebagai Pedjabat (pakai ejaan lama) Presiden berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang Dasar 1945 hingga dipilihnya Presiden oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Hasil Pemilihan Umum".

Ketidaktelitian dalam penulisan juga pernah terjadi dalam penulisan naskah UUD 1945, yang disahkan tanggal 18 Agustus 1945. Seperti, misalnya, pada rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), tanggal 18 Agustus 1945, disepakati untuk disetujui usul anggota I Gusti Ktut Pudja agar kata-kata "Atas Berkat Rahmat Allah" pada alinea 3 dari Pembukaan UUD diganti dengan "Atas berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa". Tetapi, di dalam pencetakan usul perubahan yang telah diterima itu tidak ditulis semestinya, tetap tertulis "Atas berkat Rahmat Allah" (Muhammad Yamin, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, Jakarta: Siguntang, 1971, hlm 406). Bahkan hingga kini pun tidak ada usaha untuk membetulkannya, termasuk dari Panitia Ad Hoc (PAH) I Badan Pekerja (BP) MPR sekarang ini.

MENGAPA ada persoalan ini, tidak mau menjadi Acting (Penjabat Presiden)? Apa alasannya? Saya kira tidak ada orang yang tahu persis. Tetapi, apa boleh buat, rebat cekap, asal jadi dulu. Untuk mengatasi impasse yang ada.

Sebenarnya, kalau sekiranya tidak ada SI MPRS 1967, maka tidak ada Tap No XXIII/ MPRS/1967 itu. Tetapi, tidak berarti Presiden Soekarno tidak diturunkan dari kursi kepresidenan, sebab pada waktu itu, pada saat yang sama BP MPRS menyiapkan SI juga bertugas menilai Pelengkap Nawaksara seperti ditugaskan Sidang Umum (SU) MPRS 1966 dengan Keputusan MPRS No 5/ MPRS/ 1966 tentang Tanggapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Terhadap Pidato Presiden/ Mandataris MPRS Di depan SU Ke IV MPRS Pada Tanggal 22 Juni Yang Berjudul: Nawaksara.

Dalam Keputusan MPRS itu dijelaskan bahwa pertanggungjawaban Presiden Soekarno yang berjudul Nawaksara (sembilan persoalan) dianggap tidak lengkap, sehingga Presiden Soekarno diminta melengkapinya, dan BP MPRS diberi wewenang atas nama MPRS untuk menilainya.

Presiden Soekarno menyampaikan Pelengkap Nawaksara dan BP MPRS menilai dan menolaknya pula dengan Keputusan Pimpinan MPRS No 13/B/1967 tentang Penolakan Pidato Nawaksara. Jadi sebenarnya mengenai kedudukan Presiden Soekarno di tahun 1967 itu ditentukan, baik oleh penolakan Pelengkap Nawaksara oleh BP MPRS maupun oleh Tap MPRS No XXXIII/MPRS/1967.

UNTUK kepentingan bangsa dan negara menuju Indonesia Baru, adalah menjadi sangat relevan bila ada usaha untuk membetulkan naskah-naskah yang keliru, ataupun meluruskan pernyataan-pernyataan yang salah. Ini bukan untuk membuka luka-luka lama, tetapi untuk menjelaskan mengapa hal seperti itu bisa terjadi. Dengan demikian memang amat kontekstual. Dengan demikian pula, kesalahfahaman atau kecurigaan-kecurigaan dapat dihilangkan, setidaknya diminimalisir.

Terkait dengan hal ini, adalah menjadi amat penting adanya penulisan biografi para pejuang kemerdekaan, pejuang HAM, pejuang keadilan, negarawan, ataupun ekonom, karena dari tulisan-tulisan itu masyarakat dapat belajar banyak mengenai arti hidup, menegara, maupun memasyarakat. Ada banyak kesulitan, tetapi pantas dicoba.

Harry Tjan Silalahi
mantan anggota MPRS/
salah satu peserta SI MPRS 1967

Kompas
Kamis, 02/08/01

Panasnya Jakarta Menjelang Peristiwa 30 September 1965


KETUA PRESIDIUM --- Berdasarkan Tap MPRS No XXXIII/1966,
Presiden Soekarno menugaskan Letjen Soeharto selaku pengemban Tap MPR No IX/1966 untuk membentuk kabinet Ampera tanggal 25 Juli 1966.
Duduk di kanan Soeharto adalah Adam Malik

AKHIR bulan Juli Ialu Kantor Sejarah Deplu AS menerbitkan buku mengenai sejarah dan aktivitas diplomasi AS berjudul Hubungan Luar Negeri AS (2001). Salah satu isi terpenting buku itu ialah mengenai peranan AS menumpas PKI dan berbagai kelompok komunis lainnya di Indonesia setelah pecahnya peristiwa tanggal 30 September 1965.

DI dalam buku di ungkapkan sejumlah fakta yang menunjukkan komplotan antara para pejabat tinggi AS, mulai dari Presiden Lyndon Johnson sampai Kedubes AS di Jakarta bersama "kaki-tangan" di Indonesia dari kalangan sipil dan militer untuk menjatuhkan Soekarno. Sebetulnya bukanlah hal yang mengejutkan lagi bahwa buku itu kembali mengungkapkan keterlibatan Pemerintah AS pada saat sebelum, selama dan setelah terjadinya peristiwa 30 September 1965. Dokumentasi yang tebalnya ratusan halaman --yang isinya merupakan komunikasi oral dan tertulis antara Kedutaan Besar AS di Jakarta dengan Washington-- itu merinci berbagai peristiwa penting di Jakarta pada hari-hari bersejarah tersebut pada bab Kudeta dan Reaksi Balik: Oktober 1965-Maret 1966.

Keterlibatan AS itu ditunjukkan oleh inisiatif Dubes AS di Jakarta Marshall Green tanggal 5 Oktober 1965, atau hanya lima hari setelah pembunuhan para jenderal oleh pasukan Letkol Untung. Dalam kawatnya kepada Washington, Green menulis, "Secara rahasia kita mesti mengisyaratkan kepada orang-orang penting di TNI AD seperti Nasution dan Soeharto mengenai keinginan kita membantu sekuat tenaga. Kita harus menjaga hubungan kita dengan militer, kalau perlu malahan hubungan itu diperluas," tulis Green.

Selanjutnya, Pemerintah AS melalui kedutaan besarnya di Jakarta sejak peristiwa 30 September itu secara aktif membantu kelompok antikomunis menyuplai informasi dan peralatan militer untuk membasmi orang-orang PKI. Seorang staf Kedutaan Besar AS di Jakarta, Robert Martens, misalnya, mengakui, selama enam bulan ia mengumpulkan "beberapa ribu" nama pengurus teras PKI yang akhirnya menjadi sasaran penangkapan.

Sebelum peristiwa 30 September, tepatnya bulan Juli 1965, Washington memang sudah menyiapkan dukungan untuk menjual peralatan komunikasi militer untuk TNI AD senilai tiga juta dollar AS. Menurut diskusi yang terjadi di antara beberapa pejabat pertahanan dan luar negeri AS, penjualan tersebut dimaksudkan untuk menyaingi PKI yang kala itu menguasai sistem komunikasi intelijen yang cukup canggih untuk mengontrol Pulau Jawa.

Bukan cuma orang-orang militer saja yang memohon bantuan Green. Seorang tokoh sipil Orde Baru secara rutin menemui Dubes Green untuk menerima dana operasi pembasmian tersebut. "Kami memberikan dia Rp 50 juta yang dia minta untuk mendukung aktivitas gerakan Kap-Gestapu. Sejauh ini, aktivitas Kap-Gestapu penting bagi program TNI AD yang sangat sukses. Staf sipil kelompok ini yang dibentuk TNI AD masih sibuk menjalankan upaya-upaya represif terhadap PKI, khususnya di Jawa Tengah," demikian lapor Green kepada Deplu AS di Washington tanggal 2 Desember 1965.

MENGAPA buku ini sebetulnya bukan hal yang mengejutkan lagi? Sebab, sudah banyak sekali buku yang secara khusus menyorot keterlibatan AS di Indonesia sejak mereka membantu pemberontakan PRRI/Permesta, sampai saat AS membantu TNI AD untuk melenyapkan orang-orang komunis. Lalu kenapa AS begitu sangat berkepentingan untuk mempengaruhi berbagai peristiwa politik di Indonesia?

Jawabannya mudah, yaitu karena negara ini sangat vital dan strategis bagi kepentingan AS dalam rangka persaingan ideologis dan militer melawan Uni Soviet pada masa Perang Dingin. Bukan cuma operasi CIA saja yang merajalela di Indonesia, nyaris semua dinas rahasia negara-negara besar --seperti Uni Soviet, Cina, bahkan Jepang-- ikut meramaikan perang intelijen dan kontra-intelijen di sini.

Bagi Washington, situasi di Indonesia sudah kurang menguntungkan sejak keterlibatan mereka pada pemberontakan PRRI-Permesta. Bung Karno terlalu mandiri untuk dipengaruhi, apalagi setelah memutuskan Indonesia keluar dari PBB dan menggagas CONEFO, serta memelopori pembentukan poros Jakarta-Hanoi-Beijing-Pyong-yang.

Apalagi saat itu Bung Karno memegang kendali dalam perimbangan kekuatan antara TNI AD dengan PKI. Maka satu-satunya pihak yang bisa dimanfaatkan AS untuk menarik Indonesia dari magnet komunisme adalah TNI AD. Lagi pula, Washington sudah telanjur menjalin kontak dengan sejumlah tokoh sipil dan militer yang antikomunis yang menentang Bung Karno saat pemberontakan PRRI-Permesta. Alhasil, adalah wajar jika Washington berusaha sekuat tenaga untuk "memanfaatkan" TNI AD.

Secara terbuka. Presiden Johnson sebetulnya masih mengharapkan agar Soekarno tidak terlalu condong ke kiri. "Saya belum pernah bertemu dengan Soekarno dan ada kemungkinan kita memanfaatkan kunjungannya ke AS sebagai taktik untuk mengalihkannya dari orientasi politiknya. PKI pasti akan menentang rencana kunjungan ini dan akan melakukan apa pun untuk mencegahnya. Saya sudah menyampaikan pesan kepada Soekarno melalui Dubes Jones bahwa saya siap menerima dia," kata Presiden Johnson kepada Deplu AS di awal tahun 1965.

Jones kemudian menyampaikan undangan itu. Ia memberikan jaminan kepada Bung Karno bahwa CIA tidak akan membunuhnya, bahwa AS dan Indonesia boleh-boleh saja "setuju untuk berbeda" (agree to disagree) sebagai sahabat, dan mengundanguya berkunjung ke Honolulu (Hawaii) untuk menemui Presiden Johnson.

Akan tetapi, Bung Karno sudah patah arang dengan sikap AS yang memang berulang kali mencoba membunuhnya lewat operasi rahasia CIA. Kepad Jones suatu kali di Istana Merdeka, Bung Karno secara terus terang mengungkapkan rasa sakit hatinya dan kecurigaannya terhadap intensi politik AS. Jones kemudian dipanggil pulang, mungkin dianggap gagal mendekati Bung Karno, lalu digantikan oleh Green.

Beberapa bulan sebelum 30 September 1965, hubungan bilateral sudah mencapai titik nadir. Sentimen anti-Amerika berkembang di mana-mana, termasuk penyerbuan terhadap beberapa properti AS di Jakarta, Medan, dan Surabaya.

"Pejabat dan warga Amerika di Indonesia semakin terisolir, kontak-kontak kita sudah menjauh. Rakyat Indonesia setiap hari mendengar propaganda-propaganda dari para pemimpinnya, dari radio dan pers tentang imperialisme Amerika," kata Green pada awal bulan Agustus.

Situasi politik di Indonesia saat itu memang sangat panas, sama panasnya dengan musim kemarau di Jakarta. Dan tak lama kemudian, datanglah hari yang menentukan pada tanggal 30 September 1965 itu...
(Budiarto Shambazy)
Kompas
Minggu, 05/08/01

Kamis, September 03, 2009

Rontoknya Menara Kembar WTC

Tips bagi Fotografer: Datang Sedini Mungkin

APA yang harus dilakukan seorang wartawan foto bila terjadi suatu peristiwa? Bergegaslah datang ke tempat peristiwa itu sedini mungkin. Bila terlambat, pastilah wartawan foto tersebut akan kesulitan mendapatkan foto, karena para petugas sudah menguasai lokasi tersebut.

SELAIN kecepatan mendatangi tempat sedini mungkin, masih ada lagi suatu faktor yang sangat mempengaruhi berhasilnya seorang mendapatkan foto yang berkualitas dan dramatis. Faktor itu adalah faktor keberuntungan.

Fotografer Robert Clark dari Aurora adalah salah satu fotografer yang berhasil mengabadikan saat pesawat United Airlines yang lepas landas dari Boston ke Los Angeles, dibajak dan ditabrakkan ke Menara Selatan World Trade Centre (WTC), 11 September lalu.

Seperti juga fotografer lainnya, mereka bergegas saat sebuah pesawat American Airlines menabrak Menara Utara WTC pada pukul 08.45.

Robert Clark memilih mengabadikan dari jauh, tapi justru dengan pilihannya itu ia berhasil mengabadikan secara seri, saat pesawat terbang menuju menara WTC, menabrak dan mulai rontok. Bagi para fotografer yang memilih lokasi pengambilan sangat dekat, mustahil bisa mengabadikan pesawat kedua yang dihujamkan di menara kembar itu, apalagi secara seri foto.








Berbeda dengan televisi yang mengabadikan secara kontinu, seorang wartawan foto hanya
mengabadikan pada momen-momen yang dianggap menarik. Keputusan Robert Clark untuk
mengabadikan secara seri dengan menggunakan tripod tentulah salah satu faktor yang menunjang keberhasilannya. Di sinilah kekuatan dari suatu foto dibandingkan dengan televisi. Imaji yang di televisi hanya berlangsung sekejap, sedangkan foto bisa dinikmati berulang-ulang.

Mungkin menarik kalau menyimak kata-kata Seijiro Kurosawa, fotografer Asahi Shimbun yang kini sudah meninggal karena kecelakaan helikopter. "Di mana pun Anda berada, tugas utama Anda adalah sebagai fotografer. Kalau Anda ingin menghentikan, lakukanlah dengan foto. Kalau Anda ingin menolong, tolonglah dengan foto yang bisa mempengaruhi. Foto punya kekuatan dan energi hingga semuanya bisa menjadi kenyataan, sesuatu yang tidak bisa dilakukan sendiri oleh kekuatan rakyat sekalipun. Dan kami percaya bahwa fotografi adalah senjata kami." (kr)

Kompas
Minggu, 23/09/01

Belajar dari WTC NY


BERUBAH - Pemandangan Kota New York tidak akan pernah sama
seperti sebelumnya setelah runtuhnya dua menara gedung
World Trade Center pada, hari Selasa (11/9) lalu. Pemandangan
Kota New York pasti akan berubah setelah ini.


TAHUN 1972, Minoru Yamasaki artis-arsitek perancang World Trade Center adalah salah satu figur terpenting dalam khasanah arsitektur Amerika. Sebagai seorang arsitek yang dianggap mewakili gerakan Neo-Modern, bersama dengan Philip Johson dan Edward Stone, Yamasaki sedang menanti selesainya pembangunan menara kembar tertinggi di dunia.

NAMUN pada tahun itu pula, Yamasaki harus menyaksikan penghancuran karya unggulannya, kompleks perumahan sosial Pruitt Igoe, St Louis, Amerika Serikat, yang dirancangbangun tahun 1952 - 1955 karena dianggap menjadi fasilitas hunian yang terlalu sarat masalah sosial. Penghancuran tersebut kemudian dianggap sebagai titik "habisnya" gerakan arsitektur Modern.

Pada saat itu, sedang terjadi semacam suasana "transisi", saat penting lahirnya gerakan Post Modernisme dalam arsitektur. Yamasaki, lewat Menara WTC, dianggap melahirkan ketertarikan untuk kembali menjadikan estetika sebagai pusat kegiatan berarsitektur bukan sekadar fungsi fisik-biologis.

Diktum terkenalnya "... the social function of the architect is to create a work of arts..." dapat diterima masyarakat arsitektur yang sebelumnya begitu anti pada hal-hal yang berbau "estetik", yang lekat dengan soal "keinginan" yang selalu dianggap bertolak belakang, berseberangan dengan isu kegunaan dan kebutuhan ("fungsi"). Sebelum hadirnya WTC, sebagian besar bangunan tinggi tampil dalam ujud kotak murni, bersalut dinding tirai kaca ringan-tipis yang disusun berdasarkan repetisi modul bahan industrial, terutama baja, kaca, dan aluminium. Bahan-bahan tersebut dibuat berdasarkan ukuran standar, yang diharapkan bisa dipakai di mana saja. Semua diperhitungkan dalam paradigma "cost-benefit". Segala tampilan yang tidak standar, yang hadir sebagai unsur estetika, dianggap mengada-ada, sebagai hal yang merusak kemurnian ide fungsionalisme.

Sosok WTC walaupun tampil sebagai sebuah ujud puristik, kotak-murni, ditampilkan dengan dekorasi garis-garis vertikal struktural di dinding luar, sebagai kelanjutan dari bentuk geometri-Gothik di beberapa lantai terbawah. Lengkung Gothik yang menajam di ujung atas, menjadi penunjang struktur kulit bangunan di atasnya. Suatu hal yang unik, mengingat gaya-gaya vertikal tidak disalurkan langsung secara tegak lurus lewat kolom yang menerus, tetapi dialihkan melalui lengkung tersebut.

Pilihan untuk memakai elemen dari masa lalu, juga merupakan terobosan penting bagi seorang modernis seperti Yamasaki.

AWALNYA, gedung ini dirancang untuk dikelilingi ruang-ruang publik terbuka seluas sekitar 12 hektar, berupa taman-taman dan plaza. Hal ini dikehendaki agar sosok bangunan tersebut dapat nyata terlihat jelas dari berbagai sisi. Keberadaan ruang publik juga menjadi penting, mengingat besarnya kapasitas tampung kedua menara ini. Dengan luas per lantai 3.600 m persegi, setinggi masing-masing 410 m persegi (total 110 lantai), WTC dapat menampung sekitar 40.000 orang. Begitu besarnya proyek ini, sehingga ada anggapan akhirnya ia memacu resesi ekonomi saat itu akibat habisnya sumber daya. Kehadirannya juga mengakibatkan terpenuhinya kebutuhan seluruh kota atas ruang sewa yang akhirnya menghentikan pembangunan gedung-gedung lainnya di New York.

Secara struktural, rancangan insinyur struktur Emery and Roth ini adalah salah satu karya pertama yang dirancang dengan sistem struktur envelope. Seluruh kekuatan gedung ditunjang deretan rapat tiang-tiang baja (vierendel trusses) pada permukaan kulit bangunan sebagai penyalur gaya-gaya vertikal ke Bumi, gaya berat dan beban yang ditanggungnya. Dari kulit bangunan ke "inti" dimana terdapat rumah lift, WC, saluran-saluran utilitas, terdapat jarak antara 11 - 18 meter, bentang yang sangat besar untuk sebuah gedung perkantoran. Secara awam dapat dibayangkan sebagai sebuah sangkar burung dengan sebuah kotak penopang di tengah-tengah. Struktur di bagian inti dibuat kaku, dengan dinding beton penuh untuk menyalurkan gaya-gaya vertikal dan juga gaya horisontal yang mendera gedung lewat tekanan angin dan gerak gempa. Secara bersama, permukaan struktural, dan kekokohan di bagian inti, membentuk sebuah kesatuan struktural yang tidak dapat dipisahkan. Sistem tersebut berhasil meniadakan kolom di antara kulit bangunan dengan bagian inti yang dikonstruksi sebagai "tulang punggung" bangunan. Tujuannya agar diperoleh ruang bebas tiang yang memungkinkan penataan secara lebih fleksibel, untuk dimanfaatkan penyewa yang beragam.

Seluruh luas permukaan (sekitar 200.000 meter persegi per bangunan) dirancang sebagai element struktural yang dilapisi aluminium dan kaca kedap cuaca. Pada saat tiupan angin maksimal, permukaan gedung dapat menahan kecepatan angin sampai 160 km/jam, dengan hanya bergerak sekitar 20 cm di bagian puncak dalam periode sepuluh menit. Ini prestasi besar bagi bangunan saat itu.

Secara mekanis dan elektrik, ketinggian setiap gedung dibagi ke dalam tiga bagian segmen pelayanan. Setiap bagian, dilayani oleh sistem tata udara, sistem kontrol, sistem penyeimbang tekanan yang cukup canggih. Di samping itu, bangunan ini juga dirancang menurut standar keamanan bangunan dan antisipasi evakuasi yang sangat tinggi, mengingat tingginya tuntutan New York terhadap gedung-gedungnya. New York bahkan dianggap sebagai salah satu kota dengan standar terbaik keamanan terhadap kebakaran, se-Amerika Serikat, bahkan se-dunia.

Lahan yang sangat mahal sepertinya membenarkan perubahan kepadatan yang terus berlangsung sampai hari ini, sampai terjadinya kebiadaban yang kita saksikan 11 September 2001. Dan sekali lagi kita saksikan bahwa kehadiran karya arsitektur sebagai simbol hal tertentu, selalu menjadi sasaran penghancuran secara simbolik pula. Jika diruntuhkannya perumahan Pruitt Igoe menjadi simbol runtuhnya dominasi Modernisme, sebuah aliran yang begitu berpengaruh dalam sejarah perkembangan arsitektur; pemusnahan WTC menjadi simbol kekejian, hancurnya kemanusiaan secara universal. Bedanya, kali ini dengan jumlah korban yang begitu mengerikan.

KEPADATAN sekitar akibat pembangunan yang terus dilakukan, membuat beberapa gedung sekitar juga hancur akibat getaran maupun akibat tertimpa runtuhan.

Ada beberapa hal menyangkut perencanaan kawasan padat bangunan tinggi yang harus direvisi sesudah kejadian ini. Keputusan sebuah kota untuk mengumpulkan bangunan tinggi pada suatu lokasi seharusnya berakibat pada keharusan menyediakan prasarana memadai.

Secara makro harus dilakukan revisi terhadap asumsi penentuan standar keamanan bangunan, standar fasilitas penyelamatan dan evakuasi, baik di dalam bangunan maupun di lingkungan sekitar. Bahkan jarak bebas terbang pun jangan-jangan harus ditinjau ulang.

Satu pelajaran harus kita ambil detik ini juga, untuk lebih memperhatikan, menyiapkan dan memelihara kelengkapan semacam. Terutama yang menyangkut kepentingan masyarakat banyak, di tempat-tempat publik.

Harus kita akui sudah begitu lama hal tersebut diabaikan di negeri ini.

Sonny Sutanto
Arsitek, Dosen Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Kompas
Minggu, 16/09/01

Making and Selling a Short Film


Producing Independent 2D Character Animation:
Making and Selling a Short Film
Mark Simon | ISBN 0-240-80513-5 | PDF | 433 pgs | 38mb
If you have this book in your hands right now, there is a pretty good chance that you are thinking about making your own film. If you are feeling the urge to animate, do it. You should absolutely be making your own films. With advancements in technology, it is easier to make a film these days than it ever has been. Films are hard work, no doubt about that. You will put in long hours drawing thousands of drawings, each one only slightly different from the one before, and you will draw many of those drawings over and over until you get them perfect. But when you finish, you’ll be a filmmaker! You’ll have a film.

If you make your own film, you will have a place in the pantheon of animation. And don’t forget, the industry moves forward through the work of independent animators as much as it depends on animated features, television series, and technological advancements. Even more importantly, after making a film, you’ll be a better animator. Once you’ve handled the entire process, you’ll be better at being a
member of an animation production crew, even if you have worked in animation for years. If you are just learning to animate, you won’t have to wonder about the mysteries of animation, or spend years trying to figure them out.

Download...
Mirror

Selasa, September 01, 2009

Water : Miracle Cure


Water : Miracle Cure
Beth Agnew | ISBN 0-9731336-8-6 | Pdf | 129 pgs | 2 mb
Depressed? Fatigued? Got a headache? Many pains and illnesses are caused by dehydration, a widespread condition of drought within your body.

Our bodies are 75% water, and water is a critical element in cell function. Without an adequate supply of water, the body cannot repair itself, or remove toxic wastes efficiently. It becomes sick from having to operate in a chronic state of dehydration.

If you are not drinking at least 64 fluid ounces (2 liters, or 4 pop bottle size containers) of water a day IN ADDITION to any coffee, colas, tea, juices, or alcohol you drink, you are dehydrated!

Water can save your life!
Download...
Mirror

Senin, Agustus 31, 2009

Etnik Chic


ETNIK CHIC merupakan ekspresi penataan dalam menyerap gaya etnik ke dalam rumah tinggal yang modern. Gabungan furnitur modern yang serba praktis dan sederhana dengan beberapa elemen etnik pada titik-titik penataan yang tepat dapat menghasilkan gaya etnik yang elegan. Inspirasi dan karakter pribadi sang pemilik yang berbeda dapat mencerminkan hasil gaya penataan yang berbeda pula walaupun porsi pemakaian benda etniknya sama.


Paduan furnitur dari rotan, sofa bergoya Eropa, dan meja-meja etnik antik dari kayu membuat suasanaruang tamu tampil akrab, unik, namun elegan.


Komposisi pemakaian warna krem, cokelat, putih, beige serta gaya simpel membentuk suasana yang tenang dan berkesan elegan.


Sudut ruang-ruang keluarga tampil unik dengan kehadiran patung ukir kayu berbentuk orang sebagai latar belakang.


Detail pengolahan bahan-bahan alam etnik seperti bahan rotan dan gabor dalam desain yang modern, seperti pada keranjang dan lampu duduk.

Tips
PADUKAN FURNITUR SIMPEL, MODERN, ATAU KLASIK SEPERTI SOFA, MEJA, DAN LEMARI DENGAN ELEMEN ETNIK SEPERTI PATUNG ANTIK, PERNAK-PERNIK, DAN LUKISAN DALAM SATU PENATAAN RUANG.


Ruang tamu dalam pilihan furnitur rotan dengan desain modern yang dipadu-padan dengan furnitur kayu dan warna-warna yang solid tampil sangat chic.


Berbagai produk etnik yang terbuat dari pengolahan bahan-bahan alami seperti rotan, bambu, dan tenun ditampilkan dalam desain dan fungsi yang modern.




Tips
GUNAKAN KOMPOSISI WARNA-WARNA PASTEL NATURAL SEPERTI WARNA KREM, BEIGE, DAN COKELAT SERTA BERI AKSEN LILIN, PITA, BANTAL-BANTAL DUDUK, DAN LUKISAN YANG MEMBIASKAN SUASANA CHIC.

UNTUK RUANG TAMU, MISALNYA, ISI DENGAN SOFA, KURSI SINGLE, MEJA TENGAH, DAN MEJA SAMPING SERTA TATA SESUAI DENGAN UKURAN DAN BENTUK RUANGNYA. TIDAK BERLEBIHAN MERUPAKAN KIAT PRAKTIS AGAR RUANGAN TERLIHAT ELEGAN.

COBALAH BEREKSPERIMEN DENGAN MENEMPATKAN TITIK-TITIK PENCAHAYAAN SEPERTI LAMPU DUDUK ATAU LAMPU DINDING PADA BERBAGAI SUDUT DALAM SATU RUANG, MISALNYA RUANG TAMU, SEHINGGA TERCIPTA RUANG YANG NYAMAN DAN HANGAT.

UNTUK MEMBENTUK SUASANA RUANG YANG NYAMAN DAN HANGAT, SEBAIKNYA PILIH LAMPU DENGAN SINAR KUNING, MISALNYA LAMPU PIJAR, LAMPU HALOGEN, LAMPU SOROT, ATAU LAMPU DOWNLIGHT (TL) SINAR KUNING.

seri rumah gaya 'Sentuhan Etnik'
Penulis Susilowati, lulusan Desain Interior Univ. Trisakti, Jakarta
Fotografer Antonio Zi
Penertbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Minggu, Agustus 30, 2009

Home-Designing.com Magz


Home-Designing.com Magz
Pdf | 37 pgs | 5 mb

Download...
Mirror

Symbian OS Explained


Symbian OS Explained
Effective C++ Programming for Smartphones
Jo Stichbury | ISBN 0-470-02130-6 | Pdf | 394 pgs | 3 mb
Developing good C++ code on Symbian OS requires a clear understanding of the underlying concepts and the nature of the operating system. This book explains the key features of Symbian OS and shows how you can use this knowledge most effectively. It also focuses on some aspects of good C++ style that particularly apply to Symbian OS. With understanding and practice, the expertise required to write high quality C++ code on Symbian OS should become second nature.

The book is divided into a series of self-contained chapters, each discussing specific and important features of Symbian OS. Besides the fundamentals, the chapters illustrate best practice and describe any common mistakes to avoid. The chapters are concise enough to impart the
insight you need without being so brief as to leave you needing more information. Each chapter delivers simple and straightforward explanations
without omitting the important facts.

This book doesn’t teach you how to write C++. It assumes you’re already familiar with the most important concepts of the language. Neither does it walk through Symbian OS from the perspective of developing a particular application. Instead, I try to impart an understanding of the central concepts and key features of Symbian OS and good techniques in C++. To quote from Scott Meyers,1 whose book inspired me to write this one, ”In this book you’ll find advice on what you should do, and why, and what you should not do, and why not”.
Download...
Mirror