Sabtu, Mei 09, 2009

Maejima Hideaki

mau posting apa lagi? gak punya ide...
eh lagi bengong2nya mata tertuju
ke majalah artistik Jepang
lihat punya lihat, ada juga yang aku suka
akhirnya jadilah dua posting-an berikut ini

oh ya buat Hideaki san sama Satoshi san...
dai sumimasen (maaf) kalau posting-an aku
fotonya nggak sebagus aslinya

sekali lagi
dai sumimasen...
haik...
arigato gozaimase...








Yabuuchi Satoshi



















Illegal Logging dan Opsi Kebijakan






Michael Snow, Executive Director American Hardwood Export Council (AHEC) mengakui bahwa perdagangan kayu illegal berdarnpak pada kemerosotan harga jual material kayu sebesar 16%. Dampak negatif lainnya adalah kayu illegal juga rnempersulit pemasaran sekaligus membahayakan reputasi industri kayu yang legal.

Dalam konferensi pers yang digelar pada pertengahan Juni lalu di Hotel Sheraton Saigon, Vietnam, Snow melihat persoalan kayu illegal tidaklah semudah membedakan hitam dan putih dalam warna. Ia mengingatkan kasus Charles Taylor, penguasa asal Afrika yang membiayai peperangan dengan mengunakan hasil penebangan hutan. "Karena saat itu, ia penguasa Liberia maka tak ada tudingan soal kayu illegal terhadapnya," jelasnya.

Ia menduga jumlah kayu illegal tidaklah sebesar dugaan banyak pihak. Sebagian kayu yang dituding illegal itu memang ada yang benar-benar berasal dari illegal logging. Namun banyak juga yang berasal dari pembukaan lahan hutan untuk perkebunan dan peternakan berskala luas, seperti terjadi di Asia dan Amerika Latin.

Ia sendiri melihat opsi kebijakan yang diterapkan justru menghadapi persoalan yang tidak kalah rumit. Pemboikotan penebangan kayu. Opsi ini sulit dilakukan apalagi dalam jangka panjang. Hutan memiliki nilai ekonomis. Opsi ini berhasil bila ada "insentif perekonomian yang menarik untuk membiarkan hutan sebagai hutan," ungkapnya.

Sertifikasi, kebijakan procurement dan skema bangunan hijau merupakan solusi parsial. Sertifikas mengalami hambatan, misalnya, dari kepemilikan hutan kayu yang di Amerika sendiri didominas kepemiiikan pribadi. Sekitar 70% dari total hutan kayu di sana dimiliki pribadi, namun menyumbang sekitar 90% total produksi kayu di sana. "Sertifikasi akan lebih mudah jika hutan dikuasai oleh pemerintah," sambungnya. Lagi pula sulit untuk melacak balik, jika komponen produk furnitur menggunakan kayu yang berbeda asalnya.

Menurutnya, "there is no one size fits all solution" hingga kini. Itu sebabnya ia menganjurkan pendekatan risk based assessment. Sebuah pendekatan yang paling memungkinkan mengatasi kesenjangan yang terjadi. Pendekatan ini mencegah kerugian atas kontrol yang berlebihan pada pemasok yang mana memiliki resiko kecil atas praktek-praktek buruk. Sekaligus menjamin sumber daya dengan berfokus pada permasalahan setempat. Sekaligus merespon secara proporsional skala permasalahan.


Woodmag, No. 18, Sep 2008
Magazine for Ekamant's Premier Customer

Tunjang Majemuk Lebih Menguntungkan

Sistem perakaran pada tanaman jati mempunyai peranan yang teramat penting, di samping berfungsi sebagai menyerap makanan di dalarn tanah untuk pertumbuhan juga berfungsi menopang pertumbuhan jati untuk semakin kokoh tidak mudah roboh. Perbanyakan (propagasi) tanaman jati dari biji (generatif) akan menghasilkan perakaran tunggang. Perbanyakan secara vegetatif melalui kultur jaringan dan stek pada umumnya menghasilkan tanaman yang berakar serabut yang lateral dan dangkal. Perakaran serabut yang lateral dan dangkal kurang mampu mengikat bidang tanah yang lebih luas dan dalam, sehingga peranan dalarn mengikat air dan menahan erosi kurang optimal serta tanaman mudah roboh.


Dengan menggunakan tambahan bioteknologi, PT. Setyamitra berhasil mengembangkan jati secara vegetatif dengan stek pucuk yang menumbuhkan akar tunggang lebih dari 3 per pohonnya. "Untuk membedakannya kami menyebutnya sebagai akar Tunjang Majemuk," jelas Djati Santoso.

Saat awal pengembangan hanya 3-4 akar tunjang dalarn satu pohon. Kini, sekitar 8-12 akar tunjang dalarn satu pohon. Dalam setiap akar tunjang itu tumbuh pula akar serabut. Akar tunjang majemuk ini memiliki kelebihan. Tidak seperti pohon jati umumnya yang menggugurkan daunnya saat kemarau menyapa. Jati JUN tidak melakukan itu. Akar tunjang majemuknya mampu menangkap air dan nutrisi yang dibutuhkan selama kemarau berlangsung. Itu sebabnya, pertumbuhannya tidak terhenti selama kemarau berlangsung. Akar tunjang majemuk yang mampu untuk menahan lapisan tanah, sekaligus menangkap air, ini menyediakan harapan untuk membangun hutan jati sebagai kawasan tangkapan air untuk mengurangi ancaman erosi dan longsor pada musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.

Tanaman jati sistem perakaran tunjang majemuk inilah yang membedakan jati pengembangan Setyamitra dengan jati unggul lainnya dan diberi nama Jati Unggul Nusantara (JUN).

Bibit JUN dengan kinerja sistem perakaran tunjang majemuk akan menghasilkan tanaman jati yang cepat tumbuh, kokoh dan menghasilkan kayu jati yang berkualitas yang memberi manfaat ekonomi, manfaat lingkungan dan sosial. Tanaman JUN dapat ditebang/dipanen mulai umur 5 tahun. Dalam hal JUN dipanen pada umur 10 tahun atau 15 tahun dapat dilakukan penjarangan setiap 5 tahun sekali yang akan menghasilkan nilai yang makin besar karena volumenya dan sortimennya dari A1 ke A2 dan A3.


Woodmag, No. 18, Sep 2008
Magazine for Ekamant's Premier Customer

JATI BUAT CUCU ?

TAK LAGI CUCU YANG MEMANEN POHON JATI













Kekurangan kayu sebagai bahan baku industri dari tahun ke tahun kian bertambah terjadi di negeri ini. Headline semacam itu bahkan sering muncul di sejumlah surat kabar nasional maupun lokal. Diberitakan bahwa produksi kayu jati Perum Perhutani hanya mampu memasok sebagian kecil kebutuhan kayu nasional, sebagian dari kekurangan tersebut dipasok oleh kayu rakyat.











Produksi kayu jati Perhutani untuk memasok kebutuhan industri kayu kian menurun setiap tahunnya. Tahun 2001 Perhutani masih memasok sekitar 648.613 m3 kayu jati. Tahun berikutnya meningkat menjadi 662.850 m3 kayu jati. Namun, tiga tahun kemudian, pada tahun 2005 pasokan kayu jati merosot menjadi 354.376 m3.

Menurunnya produksi kayu jati Perum Perhutani dari tahun ke tahun dan melonjaknya permintaan kayu jati sebagai bahan baku industri memicu ide untuk melakukan investasi pada sektor kehutanan untuk berpartisipasi dalam mencukupi pasokan kayu jati di masa depan, mengingat kayu ini sangat dibutuhkan industri meubel yang saat ini tumbuh cukup signifikan terutama pelaku industri yang berada di Pulau Jawa. Investasi dengan menanam JUN lebih beralasan (reasonable) dan lebih menarik dibanding investasi dengan menggunakan tanaman jati konvensional di mana umur panen 40 tahun bahkan 60 tahun, karena JUN umur 5 tahun dapat menghasilkan nilai yang cukup tinggi. Itu sebabnya Ir. Djati Santoso, Direktur PT. Setyamitra Bhaktipersada mengatakan bahwa dengan waktu panen yang lama (40 atau 60 tahun) itu sebenarnya investasi yang sangat tidak menarik. "Nonsense akan ada investasi tanpa keuntungan financial yang menarik dalam waktu pendek", ungkapnya. "Mindset yang umumnya adalah tebang dulu baru tanam perlu dirubah dengan tanam dulu baru tebang" tambah Direktur Utama Ir. Pius Hananto. Namun perubahan itu hanya bisa dimulai dengan ketersediaan bibit jati yang benar-benar unggul (lihat WoodMag edisi 17/2008). Tanpa bibit yang benar-benar unggul, maka sulit untuk memulainya. Memang, saat ini, banyak yang menawarkan bibit jati yang dikatakan unggul dan umumnya diklaim berasal dari spesies kayu jati asal negeri tertentu. Namun tak satupun yang berani menjamin keaslian asal- Bibit unggul bukanlah satu-satunya faktor. Ada faktor iklim dan tanah yang menentukan pertumbuhannya.

Dengan menggunakan Jati Plus Perhutani (JPP) sebagai indukan, Setyamitra berhasil mengembangkan Jati Unggul Nusantara (JUN). Bibit JUN akan menghasilkan tanaman yang memiliki nilai ekonomis sejak umur 5 tahun, namun mewarisi sifat biologis dari indukannya. Artinya, tanaman bisa mulai ditebang pada umur 5 tahun dan menghasilkan kayu dengan kualitas yang baik.

Dalam kebun percobaan, pada usia 3,5 tahun tanaman JUN telah berdiameter 21 sentimeter (Gambar 1).

Perubahan pola pikir (mindset)
"Kalau dulu tebang baru tanam, sekarang harus mulai dengan tanam, rawat barulah tebang," ungkap Hananto. Pengelolaannya pun harus berubah. Tak lagi menggunakan manajemen hutan, tapi manajemen pohon (tree management). "Mirip manajemen perkebunan karena itu bibit unggul semacam JUN juga memerlukan pemupukan yang intensif" lanjutnya.













Lantas bagaimana dengan proyeksi keuntungannya? Dalam perhitungan Setyamitra, IRR jati JUN mencapai 40%. Sebuah angka yang patut dipertimbangkan, karena di atas IRR rata-rata perkebunan kelapa sawit yang hanya mencapai 25%. Hananto menyodorkan kalkulasi rencana biaya penanaman dan keuntungan yang diperoleh selama 5 tahun. Kalkulasi ini didasarkan pada tanah seluas 1 hektar dengan 1.000 pohon JUN. Panen dilakukan pada tahun keenam, sehingga akan diperoleh keuntungan kotor sebesar IDR 177 juta per ha.

Itu sudah dengan penyisihan 20% dari keuntungan bagi masyarakat sekitar hutan. "Harga kayu jati diasumsikan sama dengan harga pada saat ini," jelasnya. Bayangkan windfall yang diperoleh karena harga kayu jati masih bergerak naik setiap tahunnya. Sebuah tawaran yang cukup menggoda, dan perlu dipertimbangkan secara serius. Apalagi bila ada kebutuhan untuk mengamankan pasokan kayu jati sebagai material utama industri furnitur yang anda miliki.

Woodmag, No. 18, Sep 2008
Magazine for Ekamant's Premier Customer

CNC








Cat nitrocellulose merupakan salah satu cat yang banyak dipakai dalam finishing mebel. Aplikasinya yang relatif mudah menjadikannya pilihan pertama. Lapisan filmnya diperoleh dari penguapan pelarut tanpa ada reaksi kimia. Pengeringannya dapat berlangsung cepat, mudah dan tidak menghasilkan emisi gas racun. Jenis ini relatif tidak sensitif terhadap debu atau kondisi lingkungan. Lapisan film yang dihasilkan dengan mudah dilarutkan dengan pelarutnya. Sealer atau lacquer-nya dengan mudah dilapisi bahan yang sama diatasnya. Lapisan catnya dapat dilarutkan dan dicuci dengan mudah jika terjadi kesalahan proses produksi, atau proses finishingnya mengharuskan pengulangan.

Penampilan sangat bagus, apalagi jika proses finishingnya dilakukan dengan tepat. Lapisan filmnya akan nampak jernih, tipis dan alami. Warna yang dihasilkan seperti warna kayu sesungguhnya. Cat ini tidak mengeluarkan emisi gas beracun saat pengeringannya. Finishing ini disukai buyers asal Amerika atau Eropa. Pasar di sana untuk high end product menuntut finishing yang menonjolkan keindahan alami kayu. Itu cocok dengan cat jenis ini.

Kelemahannya adalah kekuatannya yang relatif rendah. Lapisan filmnya tidak tahan terhadap pelarut atau thinner, panas dan goresan. NC tidak cocok untuk produk yang menghendaki lapisan finishing berdaya tahan tinggi.

Cat ini sulit menghasilkan finishing dengan lapisan film yang tebal. Meski aplikasinya berulang kali, lapisan film yang dihasilkan akan turun dan menjadi tipis saat kering. Jika yang diinginkan adalah finishing dengan pori-pori tertutup (closed pores finished) pada kayu yang berpori-pori terbuka, pemakaian filler merupakan keharusan.

Cat ini dibuat dengan bahan utama resin nitrocellulose. Resin ini dibuat dari cellulose (serat tanaman) yang dimasak dan diproses (diasamkan) dengan asam nitrat dan asam sulfat. Dalam keadaan kering Nitrocellulose sangat berbahaya karena mudah meledak. Sehingga penyimpanannya dalam larutan atau berbentuk cair. Nitrocellulose kering bersifat keras dan mudah retak (brittle).

Untuk membentuk nitrocellulose lacquer ditambahkan plasticizer agar lebih plastis dan fleksibel. Plasticizer adalah bahan kimia yang susah kering seperti super retarder. Untuk kering dibutuhkan waktu tahunan. Plasticizer ada 2 jenis, yaitu solvent plasticizer dan non solvent plasticizer. Ada banyak bahan plasticizer yang cocok untuk nitrocellulose, seperti minyak tumbuhan atau monomer dan polimer ester.

Untuk menentukan karakter lapisan film yang dihasilkan ke dalam nitrocellulose lacquer ditambahkan hard resin. Yang dapat dicampurkan pada nitrocellulose seperti castor oil, coconut resin, damar, acrylic resin, dan vynil resin.

Campuran resin ditambahkan aditif, termasuk surfactant, buble breaker, dan flattening powder. Surfactant untuk mengurangi tegangan permukaan lacquer sehingga pengeringannya merata dan lebih halus. Buble breaker untuk membuat permukaan lebih lama basah agar udara yang terperangkap dalam lapisan film dapat hilang. Flatenning powder berfungsi mengurangi dan mengatur gloss dari lapisan film yang dihasilkan.

Ke dalam campuran resin nitrocellulose, hard resin, plasticizer, dan aditif ditambahkan campuran thinner untuk menghasilkan nitrocellulose lacquer yang siap digunakan.

Untuk membuat nitrocellulose sealer, ditambahkan bahan untuk membantu pengamplasan (sanding agent). Sanding agent yang biasa dipakai adalah zinc searate atau alumunium stearate. Bahan yang sama dipakai pada amplas untuk mengurangi timbulnya panas saat pengamplasan, sehingga mengurangi pelekatan bahan pada amplas.

Yang tidak disukai dari nitrocellulose adalah yellowing. Lapisan film yang dihasilkan terlihat kuning setelah jangka waktu tertentu, terutama jika terkena sinar ultra violet. Finishing dengan warna coklat atau tua, proses ini tidaklah mengganggu. Pada warna muda atau putih, ini mengganggu karena nampak jelas dan mengubah warna. Untuk mengatasinya dikembangkan sealer dan lacquer sejenis nitrocellulose yang tidak menguning (non yellowing). Ini terbuat dari resin cellulose acetate butyrate.

Resin ini merupakan cellulose yang diproses menggunakan asam butirat. Bahan yang dihasilkan lebih tahan terhadap sinar ultra violet dan tidak menguning. Untuk meningkatkan kemampuan, resin ini dicampur dengan acrylic sebagai hard resin. Karenanya ada yang menamakannya acrylic lacquer. Lapisan film yang dihasilkan merupakan hasil penguapan pelarutnya, dan dapat dilarutkan kembali dengan mudah. Harganya lebih mahal dari nitrocellulose, dan pemakaiannya lebih sulit sehingga hanya dipakai untuk cat yang non yellowing.

Pemakaian nitrocellulose atau cellulose acetate butyrate sering dikombinasikan dengan vynil. Vynil resin adalah sejenis plastik yang dipakai membuat pipa pastik (pvc) dan kain. Vynil sealer berdaya rekat (adhesi) lebih baik dibanding nitrocellulose atau cellulose acetate butyrate. Warna Vynil sealer tidak akan menguning dan cocok untuk cat jenis PU atau melamine. Kelemahannya adalah viskositas tinggi pada kandungan solid yang relatif rendah, sehingga sulit menghasilkan finishing dengan lapisan film tebal. Cat jenis ini butuh waktu pengeringan lebih lama dibanding nitrocellulose. Vynil sealer lebih sulit diamplas karena sifatnya yang lebih melekat, dan karena tidak bisa ditambahkan sanding agent ke dalamnya. Penambahan sedikit sanding agent menaikkan viskositasnya sehingga menyulitkan aplikasinya. Namun lapisan film yang terbentuk dari hasil penguapan pelarutnya mudah dilarutkan kembali dengan pelarutnya.

Woodmag, No. 17, Jul 2008
Magazine for Ekamant's Premier Customer

KAYU ASH










Kayu Ash dan Oak tidak jauh berbeda kecuali keduanya sangat diperlukan bagi penggunaan modern dan tradisional. Keduanya mempunyai sifat fisik dan pengerjaan untuk konstruksi, penggabungan, lantai dan furniture. Untuk penggunaan sebagai alat olah raga seperti tongkat pemukul baseball, keduanya berbeda. Ash menyerap getaran dan lebih disukai penggunaannya. Ada beberapa penggunaan Ash yang dicatat oleh Foster's Sage Gateshead Auditorium di Inggris, yang berdasarkan warna, urat kayu dan karakternya membuat disainer furnitur dan tukang kayu tertarik.

Ash Amerika sebagian besar adalah ash putih, Fraxinuz americana, disamping ash hitam dan coklat, Fraxinus nigra. Meski terkadang membingungkan, inti kayu dari ash putih sering pula disebut sebagai ash coklat. Persentase inti kayu yang berwarna coklat sangat tergantung pada lokasi tanaman itu tumbuh. Misalnya, ash dari bagian utara yang tumbuh lebih cepat, inti kayunya lebih sedikit ketimbang ash utara yang tumbuh lebih lambat di iklim yang lebih dingin. Oleh karena itu, ash putih terkadang dijual sebagai "utara" atau "selatan". Berat jenisnya juga bevariasi. Tanaman ash tumbuh mulai dari Selandia Baru(?) dan Florida di bagian timur hingga ke bagian barat yaitu Minnesota dan timurTexas. Jadi ketika menggolongkan kayu Amerika, "ketahuilah asalnya"! Sebagian besar importir kayu dan distributor mengetahui perbedaan karakteristiknya.

Salah satu penggunaan awal dari ash Amerika adalah untuk mencegah dari ular, daunnya digunakan di sepatu boot dan kantong dari sang pemburu. Baru setelah itu penggunaannya lebih dikenal untuk tongkat baseball, bagian pegangan dari peralatan dan penggunaan lainnya yang membutuhkan kayu yang dapat dilenturkan atau menyerap getaran. Bijinya adalah sumber utama makanan bagi kehidupan liar -ash menjadi penting karena tersebar di seluruh hutan di bagian timur AS dan tidak terkonsentrasi di satu tempat saja. Pohon ash tumbuh setinggi 70 atau 80 kaki, tumbuh lebih besar dari sepupunya di Eropa sehingga menghasilkan papan yang lebih lebar dan relatif tanpa cacat. Pohon ash hanyalah 4.5% dari sumber kayu keseluruhan (Sumber: USDA/FAS, 1992) atau sejumlah 373 juta kubik meter. Pohon ash ditebang untuk penggunaan yang luas sejak pendatang di benua Eropa yang pertama tiba dan semakin meningkat volume penggunaannya dengan manajemen regenerasi dan alami -sesuatu yang sangat diperlukan untuk keberlanjutan.

Berat Ash Amerika sekitar 660 kg/m3 dengan kelenturan yang sangat baik, kualitas kekuatan, elastisitas, kekakuan dan kekerasan yang baik, selain beratnya yang relatif ringan dan ketahanan terhadap getaran yang sangat baik.








Ash Amerika diklasifikasikan tidak dapat tahan lama meskipun bagian dalam kayunya yang berair memiliki pori (permeable) dan mudah untuk diberikan tindakan pengawetan. Sebaliknya, pada inti kayunya tidak begitu mudah untuk melakukan hal ini. Hal ini membuat Ash Amerika lebih mudah untuk diolah dengan bahan kimia penghambat api ketimbang jenis kayu yang lain. Sifat lainnya mengarah ke kayu yang lebih keras yaitu perlu di bor terlebih dahulu sebelum dipaku, diolah dengan mesin, lem, pewarna dan pemoles untuk mendapatkan hasil akhir yang indah. Sifat dekoratif dari ash dikarenakan pola urat kayunya yang kuat dan umumnya berwarna hangat yang beragam mulai dari pucat hingga kuning yang merupakan fitur dari furnitur kontemponer.

World Hardwoods


Woodmag, No. 19, Des 2008
Magazine for Ekamant's Premier Customer

KAYU MAPLE










Apa yang dimaksud dengan keras atau lunak dalam hubungannya dengan kayu? Ada beberapa spesies kayu lunak yang sesungguhnya keras seperti kayu cedar, dan ada beberapa kayu keras yang sesungguhnya lunak seperti kayu balsa. Sifat yang menggolongkan kayu sebagai kayu lunak adalah daunnya yang berbentuk jarum sedangkan kayu keras daunnya berbentuk lebar. Tetapi jika berhubungan dengan kayu keras Amerika, hampir semua kayu keras yang diperdagangkan sifatnya keras. Jadi sangat tergantung pada aplikasinya, seberapa keras kayu yang diperlukan untuk aplikasi tersebut. Untuk lantai yang banyak dilalui orang, kayu keras adalah keharusan, sementara pengukir kayu biasanya membutuhkan yang memiliki sifat lentur atau lunak.







Kasus yang menarik dalam hal ini adalah perbedaan antara kayu maple keras (Acer saccharum) dan kayu maple lunak (Acer rubrum). Kayu maple keras memiliki kekerasan 6.450N sementara kayu maple lunak lebih lunak dengan tingkat kekerasan 4.226N. Nilai ini (dalam satuan Newton) diperoleh dari pengukuran gaya yang diperlukan untuk memalu suatu bolah baja 10mm sampai masuk setengahnya ke serat ujung suatu sample pengujian. Tetapi ada kayu keras lain yang penting, seperti kayu cherry dengan tingkat kekerasan yang sama; dan kayu elm merah dengan nilai yang lebih rendah, 3.825N. Jadi kemana harus menggolongkan kayu maple lunak ini. Hanya sedikit lebih lunak dibandingkan dengan kayu maple keras, itulah jawabannya.

Kayu-kayu maples tersebar di seluruh bagian Timur Amerika Serikat dan merupakan spesies unik yang hanya terdapat di Amerika Utara, dan meskipun pada dasarnya merupakan spesies utara yang beriklim dingin, spesies-spesies ini tumbuh dengan baik di selatan. Dengan demikian kayu-kayu maples sangat bervariasi dalam karakteristik uratnya serta terutama warnanya. Variasi tersebut bukan hanya terjadi pada kedua spesies tersebut, tetapi tergantung juga pada tempat tumbuhnya, bisa saja terjadi perbedaan dalam satu batang kayu gelondongan, yaitu kayu luar yang berwarna terang sedangkan bagian inti / tengahnya berwarna gelap tergantung dari garis lintang tempat tumbuhnya serta panjang masa tumbuhnya. Jadi para pengguna kayu maple perlu memperhatikan kebutuhan warna, serat serta kekerasannya untuk penggunaan-penggunaan yang dimaksudkan. Untuk furniture, keduanya bisa digunakan, tapi untuk lantai, gunakan kayu maple keras. Salah satu kelebihan dari kedua kayu maples tersebut adalah kedua spesies tersebut merupakan salah satu dari spesies kayu keras Amerika yang paling berkelanjutan dan meliputi sekitar 17% dari total seluruh sumber kayu keras AS. Kedua spesies ini diekspor dalam bentuk kayu gergajian dan veneer, dan kayu maple keras merupakan spesies ekspor ketiga terpopuler pada tahun 2007 - setelah kayu oak putih dan oak merah.










KARAKTERISTIK
Kayu maple keras memiliki kayu yang keras dan berat dengan kerapatan 25% lebih rapat dibanding kayu maple lunak. Kayu bagian luar keduanya berwarna putih krim dan bagian inti atau tengahnya bervariasi dari coklat mudah sampai coklat. Kayu maple lunak, yang biasanya dijual tanpa dipilah warnanya, seringkali ditandai dengan flek kecil pada urat kayunya. Berdasarkan peraturan NHLA kayu luar atau sapwood semacam ini tidak termasuk cacat bahkan kebanyakan pembeli kayu maple menyukainya. Kayu kedua spesies ini memiliki urat kayu yang relatif lurus (kecuali jika terdapat keriting atau berfigur) dan teksturnya halus. Keduanya dapat difinishing dengan permukaan yang mengkilap dan sangat sesuai untuk furnitur.









SIFAT TEKNIS DAN PENGERJAAN
Kayu-kayu maples baik dikerjakan dengan mesin, tetapi dianjurkan untuk dibor lebih dulu sebelum dipaku atau disekrup. Keduanya sangat baik jika dilem demikian juga diamplas. Kayu-kayu ini memiliki sifat membengkok yang baik jika diuapkan serta sangat tahan gesekan dan aus. Kayu maple keras merupakan mata dagangan ekspor utama untuk AS dengan contoh- ontoh yang spektakuler seperti misalnya diangkut dalam jumlah besar menggunakan pesawat terbang keJepang selama demam jalur bowling beberapa puluh tahun lalu. Saat ini kayu-kayu ini masih menjadi spesies yang disukai disana dan dimanapun untuk pekerjaan-pekerjaan permukaan di restoran-restoran dan dapur-dapur serta digunakan secara luas untuk lantai. Kayu maple lunak terkenal sebagai bahan yang ekonomis untuk furnitur serta sebagai pengganti kayu cherry jika di beri pewarna gelap (stained). Tangga spiral serta lantai pintu gerbang Centrum Hout (Pusat Kayu) di Belanda merupakan salah satu contoh pemakaian kayu ini. Sesuai untuk: lantai, furnitur, lemari interior, kabinet dapur dan pekerjaan atas (worktops), pintu, panel, molding, tangga dan susuran tangga, serta panel-panel yang dilem pinggir (edge-glued panels).

www.ahec-seasia.org
World Hardwoods 2008

Woodmag, No. 18, Sep 2008
Magazine for Ekamant's Premier Customer

Rabu, Mei 06, 2009

Rupiah dalam huruf untuk Delphi

Tidak bisa dipungkiri dalam setiap pemrograman keuangan
seringkali dibutuhkan rutin
konversi dari mata uang ke dalam string
,
baik untuk tampilan layar maupun ke printer.

Berikut link untuk Download rutinnya...

Wood Mini Truck

Ebony Mini Bike

Wood Mini Playhouse













The Only White Oak













There is a lot of oak around, as it dominates architectural interiors and furniture, is popular for some exteriors and represents more than half the European and US hardwood flooring sector. Oak grows throughout the Northern Hemisphere and comes in many disguises- but there is only one commercial source of white oak. The USA, contains almost all the available white oak, so any other oak calling itself "white oak" is an impostor. American white oak, defined by Lincoln (ISBN 0854420282) as native only to Eastern USA and SE Canada, is a group of about eight Quercus species, mainly Q. alba which are sold together either as Northern white oak or Southern white oak.

Furniture and joinery markets around the world are still showing a preference for oak above any other single temperate hardwood species and American white oak is one of the most sought after and readily available. Thus there has been a recent tendency by oak producers from other regions to cash in and rename their own as "white" oak. In the USA White Oak accounts for about 14% of the national hardwood forest resource.

All oaks vary in grain characteristic and colours due to many factors, which include site growing conditions and methods of sawmilling in addition to the great variety of sub-species. So it is always a question of "know your oaks" and "understand what is truly white oak".

The colour of white oak may also vary from north to south. The sapwood is light or almost white and the heartwood is light to brown colour. The heartwood is durable and naturally resists insect attack and rot from humid conditions. Under NHLA grading rules sapwood is not a defect and in many interior applications can be used as a feature. White oak, being hard, is particularly suitable for flooring in high traffic areas. The wood is mostly straight grained with a medium to coarse texture.

White oak machines well, and nails and screws well although pre-boring is advised. Its adhesive properties are variable, but it stains and polishes to a good finish. The wood dries slowly and care is needed to avoid splitting and checking, and due to its high shrinkage it can be susceptible to movement in performance.

The wood is hard and heavy with medium bending and crushing strength, low in stiffness, but very good in steam bending. White oak can vary according to the growing region.

Asian architects have also long appreciated oak as a material that works well in buildings, whether they are large signature projects such as the Esplanade in Singapore or small private villas. Many hotels throughout Asia feature white oak as "show wood" in flooring, furniture, doors and joinery.
World Hardwoods 2008

Woodmag, No. 17, July 2008
Magazine for Ekamant's Premier Costumer

Waves on Sanding Result

One of the sanding marks caused by Wide Belt Sander (WBS) is uneven or wavy sanding result.

Figure 1. Front view of wavy sanding result




There are some reasons that may cause wavy sanding result such as

1. Contact drum is too soft
Rubber hardness at the contact drum may be measured by using a durometer. A WBS used with rubber hardness of contact drum that is not fit with the application may cause wavy surface of the sanded panel. The hardness of the contact drum's rubber is expressed in Shore degree (°Shore), namely between 90° - 20° Shore. The higher the Shore degree is, the harder the contact drum's rubber.

2. Sanding Pad is too soft
Like contact drum, sanding pad that is too soft may cause wavy surface. The hardness of sanding pad at some machines that are using pneumatic system depends on the air pressure supplied to the pad. The higher the air pressure is, the harder the pad will be. The hardness of the sanding pad that does not use pneumatic system may be measured from the density of its felt. Felt hardness ranges between 0.2 to 0.6g/cm3. The higher the density level is, the harder the felt will be.

3.Feeding speed (conveyor speed) is too high
The rotational speed of conveyor is called as feeding speed measured in meter per minute (m/minute) unit. Feeding speed highly influences the sanding machine to make abrasion.
Sometimes, for certain type of wood, too high feeding speed may cause waves to the sanding result. Feeding speed for softer wood ranges between 12 - 17 meter per minute. While for hardwood, it ranges between 6 -12 meter/minute.

Sample of wavy sanding result caused by feeding speed
Figure 2. Wavy sanding result with fairly deep groove. Feeding speed 17meter/minute










Figure 3
The wave on the panel surface will be reduced when the feeding speed is lowered to 10 meter/minute









Figure 4
Wave on the panel surface starts to vanish. The lowes feeding speed is 6 meter/minute











4. Sanding pressure is too high and abrasive grits is too fine
The sanding pressure on panel surface may also influence the sanded panel surface to wave.
Sanding pressure that is too high, in combination with too fine grit may cause waves to the panel
surface. Therefore, it is recommended to reduce the sanding pressure, and replace
the sandpaper with the coarser one to improve the sanding result.

5. Sand harshness
Sand harshness will be reduced after a long term of application. This is due to saw dust clogging
to the sandpaper surface affecting the abrasiveness of the sandpaper. The reduced abrasiveness of sand may cause wavy sanding surface.

Woodmag, No. 18, Sep 2008
Magazine for Ekamant's Premier Customer

Stain and Glaze

Stain

One of the most important materials and mostly required in the finishing process is stain. It is finishing material that function to shape and determine the color of a finishing. Stain is made from one or more (a blend) pigment to produce the desired color, solved with solven and added with certain resin that acts as a binder to obtain the desired properties of the stain.

The most important element of a stain is pigments, since the pigments determine the color of the stain for example red, blue, black, brown or other colors. There are many colors that can be made by selecting and blending the pigments. The method of blending and creating this stain color follows the color wheel theory that we presented in the previous edition. What we must remember is, when mixing a stain, the mixed pigments must be of similar characteristcs.

According to their types, pigments can be classified into 2 types, the organic and inorganic pigments. Inorganic pigments are pigments made out of natural materials such as natural rocks grinded or burned to certain degree of fineness. Samples of inorganic pigments known in furniture finishing industry are among others: Carbon black, Ferit yellow, Raw sienna, Raw umber, Lampblack, Titanium white, Red oxide, Burnt siena etc. While the organic pigments, pursuant to their names, are made from extract of herbs or animals. Further, thanks to the technological development in the pigment making, there are many more organic pigments made chemically out of synthetic materials nowadays. From many organic pigments, the most popular and used in the furniture finishing are dyes.

The two pigments in general have different properties. One of them is the particle size. Organic pigments have finer particles that soluble in solvent while the inorganic pigments have bigger particles preventing the materials from being solved in the solvent but dispersed. In general the difference of both pigments can be seen in the following tabel.

Properties ------Organic Pigment------ Inorganic pigment
---------------------------------------------------------
Color ------------------Bright------------- Less bright
Tinting ability--------- High---------------Vary
Density----------------Low----------------High
Light resistance--------Low----------------High
Coverability------------Low----------------High
Solvability--------------Solution------------Dispersion
Resistance against
solvent bleeding--------- Vary--------------Good


Glaze

Nowadays, people know and use also one of the stains that we call glaze. Glaze is a sort of wiping stain, namley a stain made to be applied by brushing or wiping. Actually, there have been some other wiping stains but usually, what we know now as wiping stain is the stain usually applied by spraying but modified in such way so that it can be applied by wiping. Glaze is specifically made to be applied in different way and produce effects that are different from the other stain.

One of the important characteristic of a glaze is that it can be wiped or brushed easily and left on the surface at certain desired thickness. Glaze is usually made out of organic pigment added with an alkyd resin and oily solvent that does not solve sealer or lacquer. So glaze is very easy to wiped out or added without necessarily destructing the sealer under it.

Glaze is different from the other stains in its application method and it looks. Glaze is applied on a sealer or wash coat (a thin sealer) with a purpose of filling the color to the wood pores and fibers. Application of a glaze will display the beauty of the wood fibers and pores and enrich and deepen the color of the finishing. Glazing by brushing also helps overcome the difficulty in the process of coloring narrow depressions that can not be reached by sprayer, for example in graving, corners or grooves. By using the glaze brushed evenly on the narrow depressions the parts will be easily and uniformly filled with color.

Other use of a glaze is to create special effects to the finishing such as antique, dirt, darker color effects on the corners or other parts causing the furniture looks older. A Glaze can also be used to make special color such as marble colors or imitating wood fibers if required. In combination with some colors, glazes can also create the dirt finishing effect to fill the depressions, profiles or corners of furniture.


Woodmag, No. 15, Jan 2008
Magazine for Ekamant's Premier Customer

Selasa, Mei 05, 2009

Labeling - Mail Merge MS Word

Sifat dokumen, sebagai contoh sebuah surat, dilihat dari segi isi/kalimat pem-bentuknya tidak selalu statis atau tetap/tidak berubah, karena pada keadaan tertentu, surat bisa dinamis, dalam artian dari segi isinya, ada bagian-bagian tertentu yang bisa diubah-ubah. Perubahan itu tidak semua, karena kalau berubah semua sama saja dengan pembuatan surat baru.

Sebuah perusahaan besar di Jakarta ingin merayakan hari jadinya. Diperlukan surat undangan sebagai pemberitahuan kepada seluruh koleganya yang ada Indonesia. Bisa saja jumlah koleganya mencapai ratusan atau bahkan ribuan. Susah dibayangkan, berapa lama dan betapa pusingnya, sang sekretaris perusahaan tersebut untuk membuat sekaligus mencetak surat undangannya satu per satu meski menggunakan komputer.

Inti dari surat di atas, pemberitahuan undangan dan tujuan/recipients kepada siapa undangan itu dikirimkan. Pemberitahuan, pasti tetap isinya tapi tujuan selalu berubah-rubah. Suratnya cuma satu, tapi baris-baris pada kalimat tujuan selalu berubah-ubah. Nah, kata-kata tujuan yang berubah-ubah itulah yang bisa ditetapkan sebagai input/field dari proses Mail Merge (MM). Jadi intinya, secara umum dalam MM ada 2 unsur, unsur kata-kata/kalimat dan unsur item/ field MM. MM yang dibahas disini digunakan pada MS Word (MSW).

MM dalam arti harfiahnya, kurang lebih berarti penggabungan surat, tapi pada kenyataannya MM tidak melulu diaplikasikan untuk surat. Ada dokumen lain yang tidak mengandung unsur/kalimat lain, tapi isinya hanya item MM. So, selain surat MM bisa diaplikasikan juga pada label (label apa saja-- bisa alamat, CD, DVD, katalog dan lain-lain), amplop, email, isi direktori atau fax.

Jadi kesimpulannya, MM digunakan untuk menghasilkan dokumen yang lebih dari satu buah, tanpa harus mengetik ulang bagian-bagian tertentu yang berubah-ubah.

Selengkapnya download pdf-nya...

Baby Pipe











Terbuat dari kombinasi kayu parusa (merah) dan ebony (hitam). Dengan ukuran total 7 cm x 8 cm x 10 cm. Cocok dimiliki setiap perokok sejati. Bisa di tempatkan di meja kerja sebagai pajangan.