Selasa, Juni 09, 2009

Mencegah Kematian Jantung Mendadak

SEORANG laki-laki lebih separuh baya tergolek lemas di tempat tidur pasien ruang gawat darurat. Frekuensi denyut nadi sekitar 160 kali per menit dengan tekanan darah 90/60 mmHG. Ia menderita serangan takikardia ventrikular (VT).

Pasien tersebut baru saja dirujuk oleh seorang dokter jantung di Bandung. Empat hari lamanya ia dirawat di ICCU. Berbagai macam cara sudah dilakukan. Pemberian obat lidocaine atau amiodaron sedikit pun tidak membantu. Entah berapa kali terhadap pasien itu dilakukan DC shock, namun cara ini pun tidak membawakan hasil sampai akhirnya ia dirujuk ke Jakarta.

Keesokan harinya dilakukanlah pemeriksaan elektrofisiologi. Itulah pemeriksaan rekaman aktifitas listrik jantung langsung ke dalam ruang jantung dan sekaligus memberikan pacuan ke jantung untuk melihat respons listrik jantung. Pemeriksaan ini ditujukan pada penderita yang mengalami gangguan irama jantung (aritmia).

Dengan pemeriksaan elektrofisiologi dan teknik mapping (pemetaan) dokter dapat membedakan berbagai macam bentuk aritmia dan VT pada pasien ini terletak di ventrikel kiri sebelah depan, di antara jaringan perut dan jaringan sehat otot jantung. Lima belas tahun yang lalu ia pernah mendapat serangan jantung dan setahun kemudian dilakukan operasi pintas koroner Coronary Artery Bypass Graft surgery (CABG) di Sydney, Australia. Akhirnya pusat VT ini dapat dimatikan dengan menggunakan teknik ablasi, yakni teknik membakar pusat abnormal tersebut dengan energi frekuensi radio.

Walaupun sudah berhasil dilakukan ablasi kateter pada fokus VT tersebut, tetapi tampaknya penderitaan pasien itu belum usai. Satu fokus lain yang lebih ganas ditemukan lagi, yakni suatu serangan VT dengan frekuensi 250 kali per menit yang menyebabkan tekanan darah langsung turun dan penderita menjadi tidak sadar dan kejang yang akhirnya perlu dilakukan DC shock.

Penerapan ablasi kateter seperti VT jenis pertama, belum mungkin dilakukan dengan teknologi saat ini untuk VT yang demikian. Maka diputuskanlah memasang ICD (Implantable Cardioverter Defibrilator), suatu alat dengan ukuran 50 cc, berat sekitar 100 gram dan ditanam di bawah kulit di bahu kiri.

Alat ini sangat canggih, dapat mendeteksi gangguan irama seperti di atas dan secara otomatis dapat memberikan pertolongan pada pasien dengan mengeluarkan DC shock, sehingga pasien dapat terhindar dari kematian. Operasi dilakukan 3 hari kemudian, berlangsung dengan lancar selama 30 menit, dan pasien dibolehkan pulang pada hari ketiga.

Bulan lalu masalah ICD ini mengemuka di Amerika Serikat, karena Wakil Presiden Dick Chinney memerlukan pemasangan ICD. Berbagai media masa membahas masalah ICD dan manfaatnya untuk masyarakat. Siapa saja yang memerlukan? Berapa lama alat ini dapat bertahan, sampai ke pertanyaan apakah pasien masih boleh bekerja lagi? Adakah pasien yang alergi pada alat ini?

Pada awal dekade 1970-an para ahli negara maju dihadapkan pada meningkatnya penyakit jantung koroner. Muncul upaya memperpanjang umur dengan ICCU, bedah pintas koroner (CABG), balonisasi arteri koroner Percutaneous Coronary Angioplasty (PCA), Stenting, obat-obat khusus, sehingga mortalitasnya menjadi sangat rendah. Tidak demikian halnya dengan masalah kematian jantung mendadak.

Di AS setiap tahun antara 300.000 dan 400.000 penderita mengalami kematian jantung mendadak. Dua sampai 15 persen saja penderita yang sampai di rumah sakit, sisanya meninggal di rumah atau dalam perjalanan ke rumah sakit.

Yang ironis, sebagian besar korban masih produktif, berumur antara 50 dan 60 tahun. Oleh karena itu, selama dua dekade terakhir banyak peneIitian yang berusaha menguak tabir rahasia tentang misteri kematian jantung mendadak, yang kian membuahkan hasil.

Berbagai studi menunjukkan sebagian besar orang dengan kematian jantung mendadak adalah akibat gangguan irama ventrikular seperti takikardia ventrikular (VT) dan fibrilasi ventrikular (VF). Sebagian besar pasien adalah pasca-serangan jantung. Makin rendah fungsi pompa jantung makin besar ia mendapatkan kemungkinan serangan kematian jantung mendadak.

Dengan pemeriksaan khusus seperti dispersi QT, ada tidaknya late potential dan pemeriksaan heart rate variability (HRV), penderita pasca-serangan jantung dapat diprediksi tentang kemungkinan mendapatkan serangan jantung mendadak. Sebab lain adalah sindrom QT memanjang, sindrom Brugada yang banyak dijumpai pada masyarakat Asia.

GAGASAN mengenai ICD muncul dari seorang dokter muda di AS, dokter Michael Mirowski, di akhir 1960-an. Ia menyesal, di depan dia, profesomya sendiri yang merupakan gurunya yang ia kagumi dan hormati mengalami serangan VT dan VF tanpa ia dapat berbuat apa-apa. Ia menggagas sebuah alat DC mini yang dapat dibawa ke mana-mana yang dapat mendeteksi secara otomatis dan secara langsung mengeluarkan DC shock agar pasien terhindar dari kematian oleh karena VT atau VF.

Baru di awal 1980-an mimpinya menjadi kenyataan. Alat rancangannya dapat dipasang pada seorang pasien yang terancam serangan jantung mendadak dengan bantuan seorang ahli bedah jantung. Pasien dibuka tulang dadanya untuk dipasangi elektroda (berupa patch) di luar jantung, lalu dihubungkan dengan generator yang bentuk fisiknya masih sangat besar sehingga harus dipasang di bawah kulit di bagian perut pasien. Badan pengawas obat AS (FDA) baru memberikan persetujuannya untuk digunakan pada manusia satu tahun kemudian, dengan persyaratan yang sangat ketat.

Karena kemajuan teknologi, ICD menjadi semakin kecil (saat ini yang terkecil 38 cc). Kalau pada awalnya pemasangannya harus dilakukan oleh dokter ahli bedah jantung dan memerlukan anestesi umum, maka sekarang kebanyakan hanya di lakukan oleh seorang dokter ahli jantung yang dilatih untuk itu (electrophysiologist), hanya memerlukan anestesi lokal, dipasang di bawah kulit di bahu kiri dan elektrodanya dimasukkan melalui pembuluh darah balik (vena) ke jantung, persis seperti pembedahan pemasangan pacu jantung tetap. Operasinya berkisar antara setengah sampai 1 jam. Biasanya hari ke-2 atau ke-3, pasien diperbolehkan pulang.

Tidak kurang daripada 120.000 ICD dipasang tiap tahun di Amerika. Yang menjadi kendala di Indonesia adalah harga yang masih selangit, terutama bagi kebanyakan masyarakat kita. Pasien di atas di pasang hampir dua tahun lalu dan baru satu kali mengeluarkan DC shock. Saya tidak dapat membayangkan bila mana ia tidak dipasang ICD.

Dr Muhammad Munawar SpJP
Bagian Elektrofisiologi dan Pacujantung
RS Jantung Harapan Kita, Jakarta

Kompas, Minggu
29/07/2001

Tidak ada komentar:

Posting Komentar