Sabtu, Juli 11, 2009

Penderita Kanker Payudara Tidak Merasa Gejala Sakit

DEMO KANKER PAYUDARA-- Dalam sebuah parade di San Fransisco tahun 1994, seorang perempuan yang payudaranya sudah diangkat karena kanker membawa papan yang mengingatkan kanker bisa mengenai siapa saja.

KANKER bukan lagi penyakit yang mematikan.Tetapi bila penyakit itu ditemukan pada seseorang, tetap saja yang terjadi ada rasa takut menghadapinya.

STELLA Darmasetiawan, seorang penderita kanker payudara menuturkan saat pertama mendapati ada benjolan di dadanya. "Ya Tuhan, tolonglah saya," begitu katanya dalam hati.

Di depan peserta seminar kanker payudara di Rumah Sakit Gatot Subroto, Senin (7/4), Stella yang kini berusia 60 tahun mengungkapkan pengalamannya.

Benjolan tidak sengaja ditemukan saat dia sedang mandi, tepat pada hari ulang tahunnya ke-55, bulan Oktober 1996. "Ketika sedang menyabuni lengan, jari-jari saya tiba-tiba menyentuh sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Suatu benjolan yang agak besar dan terasa sakit kalau ditekan. Suatu pikiran menyergap, tiba-tiba dunia serasa berhenti berputar, rasanya semua menjadi gelap," tutur Stella.

Keesokan harinya diantar oleh anaknya ia pergi ke dokter yang kebetulan adalah temannya. Setelah pemeriksaan, dokter tadi menganjurkan untuk menemui seorang ahli bedah.

Apa yang dikhawatirkan pertama kali ternyata benar. Benjolan itu harus diambil lewat operasi.

"Saya mencoba untuk melanjutkan hidup saya senormal mungkin tanpa terlalu terpengaruh oleh perasaan takut, was-was dan sebagainya. Setiap hari saya bekerja seperti biasa walaupun hidup saya sudah berubah sama sekali," ungkap Stella.

Kendati berat, Stella merasa beruntung mendapat banyak dukungan dari keluarga dan teman-temannya. Seorang famili di Belanda bahkan ada yang mengirim buku tentang cara-cara pengobatan kanker seperti radioterapi, kemoterapi, termasuk apa yang diharapkan dari pengobatan-pengobatan itu.

Stella memang harus menjalani pengobatan. Mula-mula penyinaran, kemudian kemoterapi yang sangat traumatis. "Ketika jarum sudah dimasukkan, terasa seperti api cair yang mengalir ke tubuh saya, Tidak mengherankan bahwa obat yang sedemikian kerasnya dapat merontokkan rambut, membuat kuku lepas dan menyebabkan bagian dalam mulut penuh dengan sariawan. Masih untung saya tidak muntah, hanya merasa mual sedikit yang dapat diatasi dengan obat Primperan dalam dosis yang lebih besar," tutur Stella mengenai pengobatan yang diterimanya.

Delapan kali kemoterapi sudah dilaluinya. Untuk itu dia lega. "Karena tidak usah merasakan api cair itu masuk ke tubuh," katanya.

Tidak sakit

Apa yang dialami Stella-- mengidap kanker tanpa merasakan sakit --bukan merupakan hal aneh. Pasien lainnya, Nurhayati yang juga membagi pengalamannya mengatakan, "Tidak ada gejala apa-apa sebelumnya. Saya tidak merasa sakit di bagian payudara."

Sama seperti Stella, kebetulan dia menemukan benjolan dan seorang temannya menganjurkan dia untuk segera memeriksakan benjolan tersebut.

Menurut dokter Suhartati, benjolan biasanya tidak memberi gejala sekunder. "Oleh karena itu sangat penting untuk memeriksa payudara," kata dokter dari Klub Peduli Kanker Payudara ini.

Benjolan baru memberi gejala setelah agak besar. Gejala itu antara lain kulit masuk, ada kemerahan, kulit seperti kulit jeruk atau luka tidak mau sembuh.

Kadang ada juga kanker atau tumor yang ditandai dengan keluarnya cairan kemerahan dari puting, apalagi yang disertai dengan rasa gatal. "Kalau cairan yang keluar putih, jangan khawatir, mungkin itu cuma hormonal," jelas Suhartati.

Kanker payudara merupakan penyakit yang cukup banyak dialami perempuan di dunia. Dokter Zubaeri Djoerban mengambil Amerika untuk mendapatkan angkanya.

Tahun 1997, katanya, di negara itu diperkirakan ada 181.600 wanita terkena kanker payudara. Dari jumlah tersebut, 44.190 penderita tak tertolong dan meninggal pada tahun itu juga.

"Di Indonesia kanker payudara termasuk kanker yang tersering ditemukan pada perempuan. Insiden kanker payudara meningkat sesuai dengan bertambahnya usia," ujar Zubaeri.

Dokter Evert DC Poetirang melihat ada dua penyebab meningkatnya kanker payudara di Indonesia. Yang pertama, karena ada perbaikan dalam deteksi. Lain yang kedua disebabkan adanya perubahan pola hidup pada sebagian besar masyarakat. "Orang sekarang cenderung melakukan pekerjaan terburu-buru, stres, ditambah lagi negara kita mengalami krisis ekonomi," kata Evert.

Dari kasus-kasus yang ditemukan di Indonesia, 70 persen merupakan kasus kanker lanjut, sedang sisanya kanker dalam stadium lebih ringan. "Ini berbanding terbalik dengan negara maju seperti Jepang. Di Jepang justru pasien stadium lanjut cuma 12-13 persen," ungkap Ahli Staf Bedah Onkologi Universitas Indonesia.

Faktor risiko

Dokter Zubaeri Djoerban mengatakan, kanker bukanlah penyakit yang menular atau menurun. Cuma lima sampai 10 persen penderita kanker berasal dari keluarga yang berisiko tinggi kanker payudara.

Mereka yang mendapat menstruasi pada usia dini, mereka yang terlambat mengalami menopause, mempunyai risiko mendapat kanker payudara lebih tinggi. Zubairi menyebut usia 11 tahun atau kurang sebagai patokan usia dini. "Artinya angka kejadian kanker payudara di kemudian hari lebih tinggi pada orang yang mulai menstruasi pada usia 11 tahun atau kurang dibandingkan dengan yang pertama kali mendapat haid pada usia 13 tahun misalnya," jelas Zubairi Djoerban.

Mereka yang belum pernah melahirkan serta mempunyai tumor jinak, juga termasuk di antara yang berisiko tinggi. Faktor-faktor yang lain adalah paparan sinar radioaktif, minum hormon estrogen jangka panjang dan mengkonsumsi alkohol.

Strategi pengobatan tergantung sejumlah faktor, antara lain pada tingkat penyakit (stadium). Bahkan, kata dokter Suhartati, dalam keadaan yang sama pun ada sejumlah pilihan. Strategi mana yang terbaik, tambahnya tergantung pada fasilitas dan sumberdaya manusia yang tersedia.

Apakah seorang penderita kanker payudara bisa sembuh total, Suhartati mengatakan, "Setelah pengobatan tetap diperlukan kontrol secara berkala. Kalau 10 tahun sesudah operasi tidak ditemukan lagi, bisa dikatakan pasien sudah bebas sama sekali dari kanker."

Menurut dr Zubairi Djoerban, pada beberapa pasien kanker payudara primer, kemungkinan untuk sembuh cukup besar, dengan pengobatan lokal dan regional saja. Yang dimaksud kanker payudara primer adalah kanker tanpa penyebaran jauh. Biasanya kanker primer ini didiagnosis sewaktu pemeriksaan mamografi.

"Namun, sekarang ini makin banyak bukti bahwa sebagian besar pasien kanker payudara primer tersebut ternyata mempunyai metastasis subklinis dan sebagian besar yang diobati dengan tindakan bedah yang bertujuan kuratif (dengan atau tanpa radioterapi) ternyata kemudian mengalami metastasis," kata Zubairi.

Operasi mastektomi atau pengangkatan radikal saat ini telah ditinggalkan dan amat jarang indikasi untuk tindakan tersebut. "Banyak penelitian membuktikan bahwa untuk sebagian besar kanker payudara tahap dini, lumpektomi atau pengangkatan tumornya saja, diteruskan dengan radioterapi merupakan pilihan," ungkapnya.

Sekitar separuh pasien kanker payudara di Amerika, lanjut Zubairi, sekarang mendapat pengobatan dengan cara tersebut.

Bagi mereka yang belum terlanjur dan ingin sebisanya terhindar kanker, Zubairi menasihatkan untuk memperhatikan makanan dan gaya hidup. "Makanlah banyak sayur dan buah-buahan," katanya. Hindari makanan yang diawetkan, misalnya makanan yang diasinkan. Pilihlah daging berwarna putih, seperti daging ayam dan juga ikan.

Olahraga teratur serta menjauhkan dari stres, merupakan dua hal yang diharapkan bisa
menjauhkan dari kanker. (ret)

Kompas
Minggu, 15/04/01

1 komentar: